Sunday, 31 March 2013

SYUKUR ALA MAT DRA'I


Sore itu
Aku sungguh mendapatkan sebuah pelajaran berharga
Aku bukannya selesai mendengarkan pidatonya yang terhormat
bapak professor doctor fulan situmeru dalam sebuah seminar seru
Atau ceramahnya bapak K.H. Semar yang pandai bermain kata-kata itu
Apalagi khotbahnya ustadz gareng yang meledak-ledak tapi tak pernah menentramkan kalbu
Bukan . . . sama sekali bukan itu

Tapi justru saya terkesima dengan kalimat sederhana penuh makna
Yang terlontar begitu saja tanpa rekayasa
Dari bibir yang melepuh akibat kerasnya kehidupan
Namun tetap tulusnya terasa

Adalah Mat Dra’I seorang tetangga
Yang boleh jadi saat itu telah menghentakkan kesadaran saya
Pada sebuah pertaubatan nasuha

Ia adalah seorang pekerja kasar pada sebuah toko gudang beras dan gula
Yang tugasnya adalah mengangkut setengah kuintalan beras atau gula
dari dalam mobil truk ke gudang
atau sebaliknya
Semakin banyak karungan beras atau gula itu terangkut oleh Mat Dra’I,
semakin banyak pula upah
yang bakal diterima
meskipun upah Mat Dra’I
sepanjang pagi hingga sore hari
tak lebih antara lima belas
hingga dua puluh  ribu rupiah

Dan yang paling nampak adalah
semakin banyak beban beras atau gula yang diangkutnya,
maka semakin Mat Dra’I jalannya terbongkok-bongkok mirip orang tua,
dan kulitnyapun semakin kasar dan hitam legam
karena matahari tak pernah mengenal kompromi dengan terik sinarnya
Tapi . . .
Mat Dra’I menjalani kehidupannya  dengan luar biasa rajinnya

Tak urung loyalitas Mat Dra’I 
menarik perhatian engkong Aho
lelaki separuh baya  keturunan cina
pemilik toko gudang yang cukup kaya
untuk memberinya kepercayaan
sebagai sopir truk miliknya
yang mengantarkan beras dan gula
ke berbagai tempat dalam
dan luar kota

Sementara itu dalam hal hubungannya dengan  Sang Pencipta,
tak lagi perlu diragukan untuk ditanya
Mat Dra’I senantiasa aktif melaksanakan sholat berjamaah dalam setiap waktunya,
bahkan di sela-sela usai bekerja, Mat Dra’I rajin mengkaji Alqur’an di surau dekat rumah

Aku memang sering bercengkerama dengan Mat Dra’I seusai sholat berjamaah.
Kami selalu mengadakan obrolan ringan dalam berbagai masalah
Sekalipun Mat Dra’I hanya tamatan ibtidaiyah
namun dia cukup cerdas untuk
diajak bicara
dan nampak sekali dia mengikuti perkembangan situasi terkini
melalui Koran yang dia bacanya seusai membaca Qur’an,
sekalipun dia kesulitan ketika disuruh menuliskan aksara

Malam itu giliranku membuka obrolan dengan Mat Dra’I selepas sholat isya’.

“ Wah . . Mat, Sampeyan lumayan enak sekarang ya, dipercaya nyopir sendiri”.
“Yah . . Alhamdulillah Dik, orang bodoh seperti saya ini, walaupun tak bisa menulis, tapi masih dipercaya bisa bekerja seperti sekarang” (melalui bahasa Jawa yang kental dengan dialek Maduranya)

Aku terkejut bukan alang kepalang
Hatiku robek, jantungku seakan berhenti berdetak
Mulutku menganga, pikiranku melayang
Terkesima aku tak siap mendengar ucapan polos  penuh hikmah itu

Kalau saja ucapan itu keluar dari bibir Mas Warno, atau Bik Lina,
atau Wak kaji Toha yang selalu bergelimang dalam kenyamanan
dan jarang dililit kesulitan hidup itu, tentu aku tak setakjub ini.

Tapi ini Mat Dra’I
Lelaki yang mestinya belum terlalu tua
Yang hidupnya  sarat dengan duka
Menurut praduga kita
Tapi tidak bagi Mat Dra’I
Yang selalu merasa bahagia
Dengan rasa syukurnya

Memang,
Orang-orang kecil seperti Mat Dra’I
Yang walaupun begitu, besar di hadapan Tuhan
Yang selalu terlewati dari simpati orang
Hanya karena kekurangan dan kelemahan
Ketika berbicara tentang kesyukuran
Orang segera mudah heran
Karena biasanya orang yang kekurangan itu
Enaknya mengeluh dan selalau mengatakan kekurangan.

 Sementara  itu
Orang yang kaya dan kecukupan
Yang dalam kehidupan nyata
Tidak jarang masih banyak keluhan
Dan merasa kekurangan
Menurut kita mereka mestinya
lebih pantas
Mengungkapkan kesyukuran.

Itulah bodohnya orang-orang
seperti kita
Yang masih saja menempatkan
Ungkapan pantas dan tidak pantas pada setiap persoalan secara parsial
Padahal dalam hal kesyukuran
Selalu saja pantas adanya
Baik bagi si kaya yang serba kecukupan
Maupun si miskin yang serba kekurangan
Bahkan wajib kata agama



Hanya saja,
Ketika kesyukuran itu terungkap
Dari bibir si miskin yang sarat dengan
Kebersahajaan dan kekurangan
Seperti mat Dra’I misalnya
Maka mantap dan yakinnya terasa
Dan tak perlu lagi disangsian
Karena sudah dibuktikan

Namun ketika si kaya yang
serba kecukupan
Berbicara tentang kesyukuran
Kadang terdengar hambar dan biasa
Karena memang perlu ada pembuktian
Seandainya kemudahan dan kecukupan
Tak lagi bersamanya
Tapi berganti dengan kesulitan dan kekurangan
Akankah kesyukuran itu
Masih ada letaknya di depan
Menahkodai kehidupannya?
Masihkah?





( Tulisan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya )

No comments:

Post a Comment