Sunday, 31 March 2013

SUKSESI 2


Perbincangan kemarin siang dengan Pak Edo itu sama sekali tidak membuat Pak Tarko dan teman-teman puas. Justru sebaliknya semakin membuat penasaran mereka terhadap jalan pikiran Pak Edo.
“Pak Edo, kalau misalnya pimpinan sekolah kita diperpanjang masa jabatannya, bukankah hal tersebut berarti sia-sia saja keinginan suksesi yang selama ini kita dengung-dengungkan?” tanya Pak Tarko penuh harap akan jawaban Pak Edo.
“Nah inilah kesalahan kita. Kita sementara ini berpikir bahwa suksesi itu melulu harus ditandai dengan pergantian seorang pimpinan. Kalau masih seperti ini cara berpikir kita, maka tidak  ada bedanya dengan para elite politik yang seringkali berseteru itu. Jadinya akan tidak obyektif, bahkan subyektifitasnya sangat besar. Lihatlah betapa mereka menggebu-gebu melakukan segala upaya dengan target paten pokoknya sang pimpinan harus lengser. Susah memang kalau sudah kena kata kunci pokoknya, maka yang berbicara biasanya adalah nafsu emosional, kebencian, dan sentimen-sentimen pribadi maupun kelompok, bukan lagi kejernihan pikiran. Nah kita tidak boleh seperti itu. Mestinya suksesi itu tidak harus ditandai dengan pergantian seorang pimpinan atau lengsernya Mr. X, namun suksesi dalam makna substansial  itu menurut saya yang lebih penting.
“Maka bisa jadi orangnya tetap menjabat sebagai pimpinan, tapi gaya kepemimpinan dan manuver-manuver serta arah kebijakannya itu yang harus diubah dan diganti dengan yang lebih baik dan benar.
Dia harus lebih aspiratif terhadap bawahan, bukan otoriter, harus menampilkan jiwa kebapakan karena memang sebenarnyalah dia adalah bapak bagi seluruh karyawan yang ada di bawahnya, bukan malah pencilakan sperti anak-anak dengan menganak tirikan sebagian karyawan, dan menganak emaskan sebagian karyawan yang lain. Sementara kalau ada seorang karyawannya ketahuan berbuat keliru atau salah, mestinya dibimbing dan diarahkan, bukan malah diintimidasi dengan ancaman, dan lain sebagainya. Yang ketiga adalah seorang pimpinan itu harus tetap profesional tanpa harus kehilangan nilai-nilai kemanusiaan”, jelas Pak Edo penuh antusias.
“Tapi Pak Edo, apa bisa dijamin, gaya kepemimpinan yang sudah menjadi watak pimpinan kita itu akan bisa berubah tanpa orangnya diganti? .. ah menurut saya kok sulit itu!” seru Pak Tarko dengan nada pesimis.
 “Iya , Pak Edo, biasanya yang namanya sudah menjadi watak itu, sulit untuk bisa diubah. Makanya yang paling tepat ya pergantian pimpinan itu,” timpal Bu Rima ikut mendukung pemikiran Pak Tarko.
“Yah .. itulah kenyataannya. Tapi, sesuatu yang sulit itu bukan berarti tidak bisa kan. Memang sih, agar ada perubahan gaya kepemimpinan secara signifikan, idealnya harus ada pergantian pimpinan itu. Tapi ingat, tidak dijamin lho pergantian pimpinan itu akan serta merta bisa membawa perubahan yang lebih baik. Namun memang pilihan yang pertama tersebut  lebih memberikan harapan daripada jika pimpinan tidak diganti,” jelas Pak Edo.

“Okelah Pak Edo, sekarang marilah kita berandai-andai. Katakanlah kita nanti terlanjur berada pada keadaan terburuk yang sama-sama tidak kita inginkan, yaitu pimpinan kita tidak jadi diganti, dalam arti pihak yayasan masih memberi kesempatan kepada beliau untuk tetap menjabat sebagai pimpinan sekolah ini. Apa ada kemungkinan langkah-langkah yang bisa dijadikan kompromi untuk jalan tengah menetralisir kondisi yang sudah kadung beku ini?” ujar Pak Somad, guru Bahasa Indonesia yang sejak tadi mendengarkan saja tak tahan untuk tertarik ikut serta dalam perbincangan yang semakin renyah itu.
“Ada, dan Insya Allah bisa,” sergap Pak Edo mantap.
“Kalau misalnya pimpinan sekolah kita yang sekarang tetap memimpin sekolah ini, maka pihak yayasan harus merasa perlu menempatkan seseorang atau suatu badan yang minimal berada satu tingkat lebih di atas pimpinan sekolah baik secara struktural maupun moral, yang menduduki fungsi kontrol terhadap sepak terjang dan kebijakan pimpinan sekolah. Bahkan orang atau badan  tersebut bisa berperan lebih dari sekedar fungsi kontrol, yaitu sebagai penasihat spiritual katakanlah begitu bagi pimpinan sekolah.
“Jadi selain bertugas mengawasi segala kebijakan pimpinan sekolah, ia juga berhak memberikan pertimbangan dan masukan yang harus menjadi perhatian serius bagi pimpinan sekolah, sehingga dengan demikian pihak yayasan tidak merasa kecolongan dua kali, yaitu memberikan otonomi kekuasaan berlebihan kepada pimpinan sekolah tanpa ada fungsi kontrol yang nyata di lapangan,” jelas Pak Edo menutup perbincangan hari kedua tentang suksesi kali ini.


Tulisan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.

No comments:

Post a Comment