Perbincangan kemarin siang dengan Pak Edo itu sama sekali
tidak membuat Pak Tarko dan teman-teman puas. Justru sebaliknya semakin membuat
penasaran mereka terhadap jalan pikiran Pak Edo.
“Pak Edo, kalau misalnya
pimpinan sekolah kita diperpanjang masa jabatannya, bukankah hal tersebut
berarti sia-sia saja keinginan suksesi yang selama ini kita
dengung-dengungkan?” tanya Pak Tarko penuh harap akan jawaban Pak Edo.
“Nah inilah kesalahan
kita. Kita sementara ini berpikir bahwa suksesi itu melulu harus ditandai
dengan pergantian seorang pimpinan. Kalau masih seperti ini cara berpikir kita,
maka tidak ada bedanya dengan para elite
politik yang seringkali berseteru itu. Jadinya akan tidak obyektif, bahkan
subyektifitasnya sangat besar. Lihatlah betapa mereka menggebu-gebu melakukan
segala upaya dengan target paten pokoknya sang pimpinan harus lengser.
Susah memang kalau sudah kena kata kunci pokoknya, maka yang
berbicara biasanya adalah nafsu emosional, kebencian, dan sentimen-sentimen
pribadi maupun kelompok, bukan lagi kejernihan pikiran. Nah kita tidak boleh
seperti itu. Mestinya suksesi itu tidak harus ditandai dengan pergantian
seorang pimpinan atau lengsernya Mr. X, namun suksesi dalam makna
substansial itu menurut saya yang lebih
penting.
“Maka bisa jadi orangnya tetap menjabat sebagai pimpinan,
tapi gaya kepemimpinan dan manuver-manuver serta arah kebijakannya itu yang
harus diubah dan diganti dengan yang lebih baik dan benar.
Dia harus lebih aspiratif
terhadap bawahan, bukan otoriter, harus menampilkan jiwa kebapakan karena
memang sebenarnyalah dia adalah bapak bagi seluruh karyawan yang ada di
bawahnya, bukan malah pencilakan sperti anak-anak dengan menganak tirikan
sebagian karyawan, dan menganak emaskan sebagian karyawan yang lain. Sementara
kalau ada seorang karyawannya ketahuan berbuat keliru atau salah, mestinya
dibimbing dan diarahkan, bukan malah diintimidasi dengan ancaman, dan lain
sebagainya. Yang ketiga adalah seorang pimpinan itu harus tetap profesional
tanpa harus kehilangan nilai-nilai kemanusiaan”, jelas Pak Edo penuh antusias.
“Tapi Pak Edo, apa bisa
dijamin, gaya kepemimpinan yang sudah menjadi watak pimpinan kita itu akan bisa
berubah tanpa orangnya diganti? .. ah menurut saya kok sulit itu!” seru Pak
Tarko dengan nada pesimis.
“Iya , Pak Edo, biasanya yang namanya sudah
menjadi watak itu, sulit untuk bisa diubah. Makanya yang paling tepat ya
pergantian pimpinan itu,” timpal Bu Rima ikut mendukung pemikiran Pak Tarko.
“Yah .. itulah
kenyataannya. Tapi, sesuatu yang sulit itu bukan berarti tidak bisa kan. Memang
sih, agar ada perubahan gaya kepemimpinan secara signifikan, idealnya harus ada
pergantian pimpinan itu. Tapi ingat, tidak dijamin lho pergantian pimpinan itu
akan serta merta bisa membawa perubahan yang lebih baik. Namun memang pilihan
yang pertama tersebut lebih memberikan
harapan daripada jika pimpinan tidak diganti,” jelas Pak Edo.
“Okelah Pak Edo, sekarang
marilah kita berandai-andai. Katakanlah kita nanti terlanjur berada pada
keadaan terburuk yang sama-sama tidak kita inginkan, yaitu pimpinan kita tidak
jadi diganti, dalam arti pihak yayasan masih memberi kesempatan kepada beliau
untuk tetap menjabat sebagai pimpinan sekolah ini. Apa ada kemungkinan
langkah-langkah yang bisa dijadikan kompromi untuk jalan tengah menetralisir
kondisi yang sudah kadung beku ini?” ujar Pak Somad, guru Bahasa Indonesia yang
sejak tadi mendengarkan saja tak tahan untuk tertarik ikut serta dalam
perbincangan yang semakin renyah itu.
“Ada, dan Insya Allah
bisa,” sergap Pak Edo mantap.
“Kalau misalnya pimpinan
sekolah kita yang sekarang tetap memimpin sekolah ini, maka pihak yayasan harus
merasa perlu menempatkan seseorang atau suatu badan yang minimal berada satu
tingkat lebih di atas pimpinan sekolah baik secara struktural maupun moral, yang
menduduki fungsi kontrol terhadap sepak terjang dan kebijakan pimpinan sekolah.
Bahkan orang atau badan tersebut bisa
berperan lebih dari sekedar fungsi kontrol, yaitu sebagai penasihat spiritual
katakanlah begitu bagi pimpinan sekolah.
“Jadi selain bertugas
mengawasi segala kebijakan pimpinan sekolah, ia juga berhak memberikan
pertimbangan dan masukan yang harus menjadi perhatian serius bagi pimpinan
sekolah, sehingga dengan demikian pihak yayasan tidak merasa kecolongan dua
kali, yaitu memberikan otonomi kekuasaan berlebihan kepada pimpinan sekolah
tanpa ada fungsi kontrol yang nyata di lapangan,” jelas Pak Edo menutup perbincangan hari kedua
tentang suksesi kali ini.
Tulisan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.
No comments:
Post a Comment