Sunday, 31 March 2013

CAHAYA



Dalam kebisuan yang bukan tanpa kata
Dalam kebutaan yang tak disebabkan oleh mata
Dalam ketulian yang bukan tanpa arti
Dalam ketidak pedulian yang bukan karena tak bisa

Ada kehendak, keinginan, obsesi
Tidak banyak, hanya satu …….
Hijrah,
Hijrah,
Ya, hijrah.
           
Gusti,
Sungguh Engkau Maha Tahu
Thoghut yang Engkau ciptakan itu
Sangat sabar, pintar,
pantang menyerah
Menerobos dari berbagai arah
Ada pemikiran-pemikiran kerdil
teramat menyesatkan
Ada sosok-sosok yang menuhankan diri atau
sengaja dituhankan
seolah-olah menyamai
bahkan melebihi KuasaMu
Ada peran sandiwara kehidupan yang kadang tak beda antara manusia atau manusia setengah hewan
Ada nilai-nilai tentang prinsip dan kebenaran
yang sudah hampir hilang
Ada Idealisme yang  sudah mulai tak laku dijual
Bahkan basi
Yang namanya agama hanya sebagai lelucon dan pengakuan
Sekadar diperlukan saat ada perayaan

Sudah carut marut
Orang baik tak kelihatan baik
Orang jahat tak kelihatan jahat
Orang yang dianggap baik kadang lebih jahat dari orang jahat
Orang yang dianggap jahat sering kali lebih baik
dari orang baik
Orang bodoh kelihatan pintar
Orang pintar berlagak bodoh
Orang yang dianggap pintar kadang lebih bodoh dari orang bodoh
Orang yang dianggap bodoh sering lebih pintar
Dari orang pintar

Masihkah ini zaman bernama peradaban
Atau jangan-jangan lebih jahiliyah dari zaman jahiliyah yang pernah ada.

Ya Karim,
Mohon jangan Engkau biarkan kejahiliyahan itu
terus-menerus menusuk,  merobek-robek
keyakinan yang sudah benar
Dari masing-masing nafas ini
Mohon hempaskan dzulumat itu dari kami
 Ya Rohim

Sengaja
Dalam kebisuan
Dalam kebutaan
Dalam ketulian
Dalam ketidak pedulian
Masih ada karya penghilang penat
Dari sekadar mengernyitkan dahi
Kami syukuri betul nikmat Engkau
Karena kami tak mau larut
Karena kami tak mau surut langkah untuk hijrah,
Ya hijrah
Karena kami rindu meraih cahayaMu
Kalaupun  sudah kami raih cahaya itu
Kami akan terus mengejar cahayaMu
Karena kami masih ingin meraih cahaya di atasnya lagi


Luki hakim


Surabaya, 4 April 2006

SIAPAPUN ENGKAU BERPOTENSI KRIMINAL


Suatu hari dua orang kawan saya terlibat dalam sebuah pembicaraan yang santai tapi serius. Santai, karena dilakukan di saat-saat luang kerja mereka. Serius, karena materi atau isi pembicaraan mengungkapkan kekhawatiran atas maraknya tindak kriminalitas yang kian meningkat baik dalam hal kuantititas maupun kualitas operandinya.
Saya menganggap dua orang kawan itu masih memiliki kepedulian sosial yang cukup, paling tidak jika dibandingkan dengan kawan-kawan yang lain, yang karena persoalan-persoalan keluarga, istri hamil tua, saudaranya akan menikah, gajian sudah habis sebelum waktunya, lalu tutup mata tutup telinga, tak peduli lagi terhadap adanya kesenjangan sosial yang terjadi, terhadap nasib saudara-saudaranya yang kurang beruntung di luar sana; bah koen ngene, bah koen ngono, bah presiden kecemplung sumur, sing penting lak awakku dhewe ta, ngurus awak dhewe wae sumpek hare ……. Dan seterusnya.
Tapi dua kawan saya tadi nampaknya masih memiliki apa yang disebut “human sense”. Ini nampak dari dialog mereka.
“Wah orang sekarang nekat-nekat ya Mas!”
“Nekat bagaimana, Dik?”
“Bayangkan mas, orang sekarang kalau mau berbuat jahat, tidak cukup hanya sekedar mencuri atau menipu saja, itu sudah ketinggalan jaman dan terlalu lama. Maka mereka sering ambil jalan pintas, tidak jarang menyakiti korbannya, bahkan bila perlu membunuh. Lha itu, di ujung pertigaan jalan kemarin, seorang perampok tanpa basa-basi langsung membabat tangan pengendara sepeda motor hingga putus dan membawa kabur sepeda motornya. Ditambah lagi, orang sekarang mudah sekali tersinggung, dan lagi-lagi timbul pertengkaran, lalu ujung-ujungnya seringkali menimbulkan korban nyawa melayang. Koq sepertinya nyawa ini tidak ada harganya saja. Kenapa ya mas. Apa ini pengaruh krisis ya?”
“Kamu benar, Dik. Kadang aku juga berpikir begitu. Sudah ekonomi negara ini porak poranda, ditambah lagi rasa tidak aman sering manghantui sebagian besar menghantui masyarakat.”
“Lha iya, bapak-bapak yang di atas itu lho, kok lama sekali menyembuhkan keadaan yang sulit ini, malah sepertinya keadaan semakin parah saja, padahal mereka kan pinter-pinter. Tapi .. iya  ya .. apalah artinya mereka pinter ya mas, toh  kebanyakan dari mereka tak punya kemauan. Sepertinya mereka pada ngotot untuk meloloskan kepentingan pribadi dan partainya masing-masing. Belum lagi katanya sebagian di antara mereka masih orang-orang lama, malah katanya ada wakil rakyat yang dulunya adalah preman. Halaah … mboh .. aku yang nggak ikut-ikutan koq ya merasa bingung … Nggak rakyatnya … nggak pejabatnya .. semuanya tampang-tampang kriminal … mangkel aku!!”

  “Heh .. boleh saja kamu kesal, Dik. Tapi ingat, saat ini, lebih-lebih dalam keadaan seperti sekarang ini, siapapun dia orangnya, berpotensi kriminal!”
“Hah?! .. wah .. wah .. ya jangan bilang begitu dong mas. Kalau sampeyan bilang “siapapun dia” berarti sampeyan menyama ratakan semua orang, antem kromo namanya itu. Semua berpotensi kriminal, termasuk saya berarti?”
“Iya!”
“Termasuk sampeyan sendiri?”
“Iyya!”
“Apa juga termasuk Kaji Toha, Mbah Sholeh, atau Mas Hasan yang alim dan kalem orangnya itu?”
“Iyya, siapapun!! .. termasuk keluarga kita sendiri ataupun orang lain!”
“Eddiann ..!!”

Sampai di situ, saya tinggalkan dua orang kawan yang masih asyik dalam pembicaraan yang seru itu, karena keburu ada hal lain yang harus segera saya selesaikan hari itu. Namun sesampainya di rumah, saya masih tak bisa melupakan percakapan dua orang kawan siang tadi.
Saya lalu teringat dengan bunyi sebuah hadits Nabi yang menyatakan; “Setiap manusia terlahir dalam keadaan suci … dan seterusnya. Bahkan Tuhan berfirman dalam bentuk dialog dengan ruh-ruh sebelum penciptaan manusia; “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (mereka para ruh menjawab); “Benar, kami menyaksikan.”
Sampai di sini saya memahami bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki naluri (fitrah) baik, dari siapapun dia dilahirkan. Lalu saya berpikir tentang di mana letak potensi manusia yang lain. Baru ketika saya ingat bahwa Tuhan memberikan alternatif pilihan kepada manusia dengan mengatakan “Faman syaa a falyu’min Waman syaa a falyakfur” (Maka barang siapa yang mau beriman ya silahkan, tapi barang siapa yang mau kufur ya silahkan saja), semua terserah kita. Laa ikrooha fiddiini (tak ada paksaan dalam memeluk agama / menerima kebenaran), tapi tentu semuanya ada konsekwensinya, yang diterjemahkan dalam bentuk pahala dan siksa. Akhirnya saya menemukan kebenaran dalam pembicaraan dua orang kawan  tadi.


Cerita ringan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.

SUKSESI 2


Perbincangan kemarin siang dengan Pak Edo itu sama sekali tidak membuat Pak Tarko dan teman-teman puas. Justru sebaliknya semakin membuat penasaran mereka terhadap jalan pikiran Pak Edo.
“Pak Edo, kalau misalnya pimpinan sekolah kita diperpanjang masa jabatannya, bukankah hal tersebut berarti sia-sia saja keinginan suksesi yang selama ini kita dengung-dengungkan?” tanya Pak Tarko penuh harap akan jawaban Pak Edo.
“Nah inilah kesalahan kita. Kita sementara ini berpikir bahwa suksesi itu melulu harus ditandai dengan pergantian seorang pimpinan. Kalau masih seperti ini cara berpikir kita, maka tidak  ada bedanya dengan para elite politik yang seringkali berseteru itu. Jadinya akan tidak obyektif, bahkan subyektifitasnya sangat besar. Lihatlah betapa mereka menggebu-gebu melakukan segala upaya dengan target paten pokoknya sang pimpinan harus lengser. Susah memang kalau sudah kena kata kunci pokoknya, maka yang berbicara biasanya adalah nafsu emosional, kebencian, dan sentimen-sentimen pribadi maupun kelompok, bukan lagi kejernihan pikiran. Nah kita tidak boleh seperti itu. Mestinya suksesi itu tidak harus ditandai dengan pergantian seorang pimpinan atau lengsernya Mr. X, namun suksesi dalam makna substansial  itu menurut saya yang lebih penting.
“Maka bisa jadi orangnya tetap menjabat sebagai pimpinan, tapi gaya kepemimpinan dan manuver-manuver serta arah kebijakannya itu yang harus diubah dan diganti dengan yang lebih baik dan benar.
Dia harus lebih aspiratif terhadap bawahan, bukan otoriter, harus menampilkan jiwa kebapakan karena memang sebenarnyalah dia adalah bapak bagi seluruh karyawan yang ada di bawahnya, bukan malah pencilakan sperti anak-anak dengan menganak tirikan sebagian karyawan, dan menganak emaskan sebagian karyawan yang lain. Sementara kalau ada seorang karyawannya ketahuan berbuat keliru atau salah, mestinya dibimbing dan diarahkan, bukan malah diintimidasi dengan ancaman, dan lain sebagainya. Yang ketiga adalah seorang pimpinan itu harus tetap profesional tanpa harus kehilangan nilai-nilai kemanusiaan”, jelas Pak Edo penuh antusias.
“Tapi Pak Edo, apa bisa dijamin, gaya kepemimpinan yang sudah menjadi watak pimpinan kita itu akan bisa berubah tanpa orangnya diganti? .. ah menurut saya kok sulit itu!” seru Pak Tarko dengan nada pesimis.
 “Iya , Pak Edo, biasanya yang namanya sudah menjadi watak itu, sulit untuk bisa diubah. Makanya yang paling tepat ya pergantian pimpinan itu,” timpal Bu Rima ikut mendukung pemikiran Pak Tarko.
“Yah .. itulah kenyataannya. Tapi, sesuatu yang sulit itu bukan berarti tidak bisa kan. Memang sih, agar ada perubahan gaya kepemimpinan secara signifikan, idealnya harus ada pergantian pimpinan itu. Tapi ingat, tidak dijamin lho pergantian pimpinan itu akan serta merta bisa membawa perubahan yang lebih baik. Namun memang pilihan yang pertama tersebut  lebih memberikan harapan daripada jika pimpinan tidak diganti,” jelas Pak Edo.

“Okelah Pak Edo, sekarang marilah kita berandai-andai. Katakanlah kita nanti terlanjur berada pada keadaan terburuk yang sama-sama tidak kita inginkan, yaitu pimpinan kita tidak jadi diganti, dalam arti pihak yayasan masih memberi kesempatan kepada beliau untuk tetap menjabat sebagai pimpinan sekolah ini. Apa ada kemungkinan langkah-langkah yang bisa dijadikan kompromi untuk jalan tengah menetralisir kondisi yang sudah kadung beku ini?” ujar Pak Somad, guru Bahasa Indonesia yang sejak tadi mendengarkan saja tak tahan untuk tertarik ikut serta dalam perbincangan yang semakin renyah itu.
“Ada, dan Insya Allah bisa,” sergap Pak Edo mantap.
“Kalau misalnya pimpinan sekolah kita yang sekarang tetap memimpin sekolah ini, maka pihak yayasan harus merasa perlu menempatkan seseorang atau suatu badan yang minimal berada satu tingkat lebih di atas pimpinan sekolah baik secara struktural maupun moral, yang menduduki fungsi kontrol terhadap sepak terjang dan kebijakan pimpinan sekolah. Bahkan orang atau badan  tersebut bisa berperan lebih dari sekedar fungsi kontrol, yaitu sebagai penasihat spiritual katakanlah begitu bagi pimpinan sekolah.
“Jadi selain bertugas mengawasi segala kebijakan pimpinan sekolah, ia juga berhak memberikan pertimbangan dan masukan yang harus menjadi perhatian serius bagi pimpinan sekolah, sehingga dengan demikian pihak yayasan tidak merasa kecolongan dua kali, yaitu memberikan otonomi kekuasaan berlebihan kepada pimpinan sekolah tanpa ada fungsi kontrol yang nyata di lapangan,” jelas Pak Edo menutup perbincangan hari kedua tentang suksesi kali ini.


Tulisan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.

SUKSESI 1


Di antara teman-teman sesama guru, barangkali hanya Pak Edo yang tampak demikian gencar menyuarakan yel-yel suksesi bagi kepemimpinan sekolah itu. Tidak tahu dari mana dan apa yang menyebabkan Pak Edo demikian yakin bahwa tahun ini adalah akhir masa jabatan pimpinan sekolah itu dan memang harus segera diakhiri, demikian menurutnya.
Sebenarnya teman-teman Pak Edo yang lain juga setuju dan mendukung semangat Pak Edo, karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka juga merasakan ketidakwajaran iklim kerja selama kepemimpinan yang sekarang. Namun kebanyakan dari mereka, karena faktor pribadi masing-masing atau yang lain, maka mereka hanya bersifat menunggu dengan sabar atau menyabarkan diri, sampai apabila suksesi itu benar-benar terjadi, mereka akan bisa bernafas lega sambil berkata,”Anda memang benar Pak Edo, kami juga sebenarnya mendukung anda dari belakang.
Namun bagi orang seyakin dan seteguh Pak Edo peduli apa. Mendapat dukungan atau tidak , toh Pak Edo tidak mau ambil pusing, tetap saja melaju menyuarakan kebenaran yang diyakininya, yaitu suksesi, harus ada suksesi, kalau tidak , akan menjadi semakin porak poranda institusi ini oleh system dan kebijakan yang salah arah, demikian barangkali yang ada dalam benak Pak Edo.
Waktu terus berlalu. Hari-hari masa jabatan sang pimpinan sekolah itu semakin di ambang mata. Namun seiring dengan itu pula dering issu suksesi mulai redup. Sudah tidak lagi terdengar suara Pak Edo yang dulu lantang dan getol menabuh genderang suksesi, kini tampak ayem dan dingin-dingin saja. Tidak jelas apakah orang sudah mulai jenuh karena suara-suaranya tak pernah digubris atau apa, tapi yang jelas Pak Edo terlihat tenang-tenang saja.
Tentu saja perubahan drastis sikap Pak edo ini tak urung membikin gemas dan penasaran rekan-rekannya tadi yang sebenarnya tak kalah berat merindukan adanya perubahan kepemimpinan yang berarti. Maka segera timbul berbagai spekulasi tanggapan di kalangan teman-teman sejawat. Ada yang mengatakan, Pak Edo sudah berubah, Pak Edo sekarang sudah dapat posisi enak makanya tidak lagi vokal, Pak edo tidak konsekwen, dan lain sebagainya.
Sekalipun mungkin Pak Edo tak begitu terpengaruh dengan anggapan semacam itu, tapi sebenarnya hal tersebut sungguh-sungguh tidak menguntungkan keberadaan Pak Edo secara pribadi, sekaligus ini menunjukkan betapa telah terjadi krisis mental dan kesadaran rohani di kalangan guru yang menganggap adanya korelasi antara kedudukan, jabatan, kedekatan dengan atasan, dengan vokal tidaknya seseorang, kritis tidaknya seseorang, meskipun Pak Edo tidak termasuk ada di dalam daftar korelasi di atas.
Sungguh amat memprihatinkan apabila kemudian ada anggapan nakal bahwa semakin empuk posisi jabatan seseorang, semakin dia tidak banyak membikin ulah, demikian sebaliknya sebagaimana yang lazim terjadi di luar sana, baik di lembaga pemerintahan atau yang lain.
Rupanya mereka lupa bahwa mereka berada di sebuah institusi pendidikan yang mestinya harus lebih mengedepankan nilai-nilai, moralitas, dan kepekaan pikiran dan hati di dalam melihat setiap persoalan.
Tentu saja gelagat tak sehat itu segera tercium oleh Pak Edo. Namun lagi-lagi Pak Edo memandang itu tak lebih sebagai bagian dari efek atau dampak saja dari sebuah kesalahan besar tadi. Walau begitu Pak Edo tidak boleh tinggal diam demi menyaksikan kegundahan yang dirasakan teman-teman terhadap sikap Pak Edo yang menurut mereka telah berubah , tidak konsekwen, dan lain-lain.
“Begini lho Saudara-saudara”, demikian Pak Edo membuka pembicaraan hari itu.
“Semangat dan pemikiran saya tentang suksesi terhadap pimpinan sekolah ini masih tetap seperti yang dulu”, sambung Pak Edo.
“Tapi, Pak Edo nyatanya sekarang lain, beda dengan dulu!, sergap Pak Tarko.
“Apanya yang lain, apanya yang beda?, desak Pak Edo.
“Dulu pak Edo begitu bersemangat mengumandangkan adanya suksesi, tapi sekarang, Pak Edo sama sekali cuek, seakan cuci tangan dari persoalan ini”, timpal Pak Heru, guru kesenian itu ikut nimbrung dalam pembicaraan kali ini.
“Begini, kalau dulu saya begitu antusias menyuarakan adanya sebuah suksesi bagi pimpinan sekolah ini, itu tak lebih adalah saya ingin menyuarakan sebuah alternatif perubahan dari situasi yang tidak enak, situasi yang tidak sehat yang sama-sama telah kita rasakan. Lalu kita kemudian membiasakan untuk berani berpendapat, tidak hanya sekedar nggrundel dalam hati, tanpa berbuat apa-apa. Sementara saat itu masa akhir jabatan pimpinan masih cukup lama sehingga paling tidak suara-suara kita yang ada di bawah ini merupakan sebuah andil arus bawah sebagai bahan pertimbangan bagi bapak-bapak yang ada di yayasan dalam mengambil keputusan berikutnya. Sementara bagi pimpinan sekolah sendiri secara pribadi, hal ini harus dianggap sebagai sebuah fenomena untuk introspeksi terhadap kemungkinan kekeliruan dan kesalahan yang lalu untuk kemudian memperbaikinya sehingga tidak terjadi lagi kesalahan yang berlarut-larut. Lalu mengapa sekarang saya cenderung diam, jawabnya adalah karena masa akhir jabatan itu sudah sedemikian dekat di ambang mata. Ibaratnya sekarang ini adalah minggu-minggu atau hari-hari tenang.
“Sekarang adalah saatnya bagi bapak-bapak yang ada di yayasan selaku pengambil keputusan untuk menentukan apakah akan mengganti ataukah memperpanjang masa jabatan sang pimpinan sekolah. Sedang bagi pimpinan sekolah sendiri, hari-hari tenang ini hendaklah dijadikan sebagai saat-saat yang sarat dengan tafakkur, evaluasi diri serta bermunajat kepada Gusti Allah, sehingga kalau nanti ia terpaksa harus diganti, maka dia mengakhiri jabatannya dengan khusnul khotimah (akhir yang baik). Namun kalau masa jabatannya diperpanjang, maka mudah-mudahan dia belajar dari kekeliruan masa lalu”, papar Pak Edo begitu gamblang sekaligus mengakhiri perbincangan kali itu.

Tulisan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.