Di antara teman-teman sesama guru, barangkali hanya Pak
Edo yang tampak demikian gencar menyuarakan yel-yel suksesi bagi kepemimpinan
sekolah itu. Tidak tahu dari mana dan apa yang menyebabkan Pak Edo demikian
yakin bahwa tahun ini adalah akhir masa jabatan pimpinan sekolah itu dan memang
harus segera diakhiri, demikian menurutnya.
Sebenarnya teman-teman Pak
Edo yang lain juga setuju dan mendukung semangat Pak Edo, karena memang sudah
menjadi rahasia umum bahwa mereka juga merasakan ketidakwajaran iklim kerja
selama kepemimpinan yang sekarang. Namun kebanyakan dari mereka, karena faktor
pribadi masing-masing atau yang lain, maka mereka hanya bersifat menunggu
dengan sabar atau menyabarkan diri, sampai apabila suksesi itu benar-benar
terjadi, mereka akan bisa bernafas lega sambil berkata,”Anda memang benar Pak
Edo, kami juga sebenarnya mendukung anda dari belakang.
Namun bagi orang seyakin
dan seteguh Pak Edo peduli apa. Mendapat dukungan atau tidak , toh Pak Edo
tidak mau ambil pusing, tetap saja melaju menyuarakan kebenaran yang
diyakininya, yaitu suksesi, harus ada suksesi, kalau tidak , akan menjadi
semakin porak poranda institusi ini oleh system dan kebijakan yang salah arah,
demikian barangkali yang ada dalam benak Pak Edo.
Waktu terus berlalu.
Hari-hari masa jabatan sang pimpinan sekolah itu semakin di ambang mata. Namun
seiring dengan itu pula dering issu suksesi mulai redup.
Sudah tidak lagi terdengar suara Pak Edo yang dulu lantang dan getol menabuh
genderang suksesi, kini tampak ayem dan dingin-dingin saja. Tidak jelas apakah
orang sudah mulai jenuh karena suara-suaranya tak pernah digubris atau apa,
tapi yang jelas Pak Edo terlihat tenang-tenang saja.
Tentu saja perubahan
drastis sikap Pak edo ini tak urung membikin gemas dan penasaran rekan-rekannya
tadi yang sebenarnya tak kalah berat merindukan adanya perubahan kepemimpinan
yang berarti. Maka segera timbul berbagai spekulasi tanggapan di kalangan
teman-teman sejawat. Ada yang mengatakan, Pak Edo sudah berubah, Pak Edo
sekarang sudah dapat posisi enak makanya tidak lagi vokal, Pak edo tidak
konsekwen, dan lain sebagainya.
Sekalipun mungkin Pak Edo
tak begitu terpengaruh dengan anggapan semacam itu, tapi sebenarnya hal
tersebut sungguh-sungguh tidak menguntungkan keberadaan Pak Edo secara pribadi,
sekaligus ini menunjukkan betapa telah terjadi krisis mental dan kesadaran
rohani di kalangan guru yang menganggap adanya korelasi antara kedudukan,
jabatan, kedekatan dengan atasan, dengan vokal tidaknya seseorang, kritis
tidaknya seseorang, meskipun Pak Edo tidak termasuk ada di dalam daftar
korelasi di atas.
Sungguh amat
memprihatinkan apabila kemudian ada anggapan nakal bahwa semakin empuk posisi
jabatan seseorang, semakin dia tidak banyak membikin ulah, demikian sebaliknya
sebagaimana yang lazim terjadi di luar sana, baik di lembaga pemerintahan atau
yang lain.
Rupanya mereka lupa bahwa
mereka berada di sebuah institusi pendidikan yang mestinya harus lebih
mengedepankan nilai-nilai, moralitas, dan kepekaan pikiran dan hati di dalam
melihat setiap persoalan.
Tentu saja gelagat tak
sehat itu segera tercium oleh Pak Edo. Namun lagi-lagi Pak Edo memandang itu
tak lebih sebagai bagian dari efek atau dampak saja dari sebuah kesalahan besar
tadi. Walau begitu Pak Edo tidak boleh tinggal diam demi menyaksikan kegundahan
yang dirasakan teman-teman terhadap sikap Pak Edo yang menurut mereka telah
berubah , tidak konsekwen, dan lain-lain.
“Begini lho
Saudara-saudara”, demikian Pak Edo membuka pembicaraan hari itu.
“Semangat dan pemikiran
saya tentang suksesi terhadap pimpinan sekolah ini masih tetap seperti yang
dulu”, sambung Pak Edo.
“Tapi, Pak Edo nyatanya
sekarang lain, beda dengan dulu!, sergap Pak Tarko.
“Apanya yang lain, apanya
yang beda?, desak Pak Edo.
“Dulu pak Edo begitu
bersemangat mengumandangkan adanya suksesi, tapi sekarang, Pak Edo sama sekali
cuek, seakan cuci tangan dari persoalan ini”, timpal Pak Heru, guru kesenian
itu ikut nimbrung dalam pembicaraan kali ini.
“Begini, kalau dulu saya
begitu antusias menyuarakan adanya sebuah suksesi bagi pimpinan sekolah ini,
itu tak lebih adalah saya ingin menyuarakan sebuah alternatif perubahan dari
situasi yang tidak enak, situasi yang tidak sehat yang sama-sama telah kita
rasakan. Lalu kita kemudian membiasakan untuk berani
berpendapat, tidak hanya sekedar nggrundel dalam hati, tanpa berbuat apa-apa.
Sementara saat itu masa akhir jabatan pimpinan masih cukup lama sehingga paling
tidak suara-suara kita yang ada di bawah ini merupakan sebuah andil arus bawah
sebagai bahan pertimbangan bagi bapak-bapak yang ada di yayasan dalam mengambil
keputusan berikutnya. Sementara bagi pimpinan sekolah sendiri secara pribadi,
hal ini harus dianggap sebagai sebuah fenomena untuk introspeksi terhadap
kemungkinan kekeliruan dan kesalahan yang lalu untuk kemudian memperbaikinya
sehingga tidak terjadi lagi kesalahan yang berlarut-larut. Lalu mengapa
sekarang saya cenderung diam, jawabnya adalah karena masa akhir jabatan itu
sudah sedemikian dekat di ambang mata. Ibaratnya sekarang ini adalah
minggu-minggu atau hari-hari tenang.
“Sekarang adalah saatnya
bagi bapak-bapak yang ada di yayasan selaku pengambil keputusan untuk
menentukan apakah akan mengganti ataukah memperpanjang masa jabatan sang
pimpinan sekolah. Sedang bagi pimpinan sekolah sendiri, hari-hari tenang ini hendaklah
dijadikan sebagai saat-saat yang sarat dengan tafakkur, evaluasi diri serta
bermunajat kepada Gusti Allah, sehingga kalau nanti ia terpaksa harus diganti,
maka dia mengakhiri jabatannya dengan khusnul khotimah (akhir yang baik). Namun
kalau masa jabatannya diperpanjang, maka mudah-mudahan dia belajar dari
kekeliruan masa lalu”, papar Pak Edo begitu gamblang sekaligus mengakhiri
perbincangan kali itu.
Tulisan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.