Sunday, 31 March 2013

KERJA DAN KEPUASAN


Entah apa sebabnya, apa karena kejenuhan kerja yang berkepanjangan , kepenatan akibat kerja yang tak kunjung selesai atau akibat persoalan keluarga di rumah, atau bahkan mungkin akibat kondisi lingkungan kerja yang belakangan ini dirasakan kurang sehat, seringkali membikin sumpek pikiran beberapa teman guru di Lembaga Pendidikan Salsabila itu.
Ini terlihat dari gaya bicara di antara mereka yang semakin ceplas-ceplos. Entah disengaja atau tidak, atau memang ada hal yang menyulutnya untuk berbuat begitu, sehingga orang lain yang tidak tahu duduk persoalan mendengarnya tentu akan terkejut dan cenderung menanggapinya dengan serius. Seperti misalnya yang terjadi pada bincang-bincang sore di antara para guru selepas jam kerja. Tidak jelas dari mana asalnya dan siapa yang memulai pembicaraan itu, tiba-tiba Pak Nino berkata:
            “Kalau saya realistis saja. Saya bekerja mencari gaji yang tinggi.”
            “Wah, sampeyan keliru Pak. Kalau saya justru bekerja itu mencari kepuasan hati,” timpal Pak Edo secara tiba-tiba pula, tanpa ada ekspresi bercanda atau main-main.
            Kontan saja pernyataan Pak Edo itu mengundang beragam reaksi dari beberapa guru lain yang juga ada pada saat itu. Ada yang tersenyum sinis, ada lagi yang mencibir dengan menganggap bahwa Pak Edo itu sok idealis, tak terkecuali Pak Nino yang merasa pernyataannya telah dibantah secara mentah-mentah oleh Pak Edo. Bahkan ada yang menganggap bahwa Pak Edo hanya asal ngomong, tak rasional, dan lain sebagainya.
            Tapi namanya Pak Edo, tetap saja dia tak bergeming pada pendiriannya walaupun sebenarnya ikut merasakan juga kegalauan dan nggrundelnya teman-teman seprofesinya yang kebanyakan tak mendukung pernyataannya barusan, sekalipun ada pula yang cuek saja, tak terpengaruh dengan ulah Pak Edo yang memang acapkali membuat pernyataan-pernyataan kontroversial yang tidak jarang berbenturan dengan pendapat umum di kalangan teman-temannya satu profesi itu.
            “Pak edo ini serius ngomong seperti itu?” sergap Pak Robi guru Al Islam seolah tak tahan lama berdiam diri mendengar pernyataan Pak Edo.
“Lho, Iya dong, bagi saya yang penting dalam bekerja ini saya mendapatkan kepuasan hati”, tegas Pak Edo.
“Ya sudah, kalau begitu Pak Edo ini digaji sedikit saja”, secara serempak Pak Soni dan Pak Tarko tak sabar ingin segera menyudutkan Pak Edo. “Kan tadi dia bilang nggak butuh gaji banyak”, tambah Pak Tarko.
“Lho silahkan, tapi ingat, sampeyan-sampeyan semua ini jangan keburu nafsu, jangan keburu salah paham. Kalau saya digaji sedikit , mungkin hati saya puas, tapi mungkin juga tidak, seperti halnya kebanyakan orang yang merasa tidak puas hatinya karena gajinya yang sedikit dan tidak mencukupi. Tapi jika saya bekerja mendapat gaji yang tinggi, itupun belum tentu akan membawa kepuasan hati saya, kalau dalam saya bekerja itu ada komponen-komponen yang merupakan bagian dari system kerja itu tidak membikin kita tenang, ketidak nyaman dalam bekerja, atau mungkin tekanan-tekanan dari atasan yang tidak sebanding dengan hak-hak kita, bahkan iklim kerja yang tidak lagi sehat dan segar, serta mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu sangat mungkin bisa mngusik ketenangan dan kepuasan hati para pekerjanya, termasuk saya. Maka jangan salahkan saya kalau dalam situasi seperti itu saya masih merasa belum meraih apa yang saya harapkan dan mestinya menjadi dambaan setiap orang, yaitu kepuasan hati, lebih dari sekedar gaji tinggi”, papar Pak Edo bersemangat seolah tengah memberikan perkuliaan dengan materi pengembangan wawasan di tengah para mahasiswanya.
“Maka dari itu kalau tadi sampeyan-sampeyan semua ini hanya menfokuskan pada gaji tinggi saja sebagai indikasi keberhasilan seseorang yang bekerja, maka bagi saya itu masih belum cukup, karena menurut saya kesuksesan atau keberhasilan seseorang dalam bekerja itu tampak dari sejauh mana dia memperoleh kenyamanan, kebahagiaan, dan menikmati serta mencintai pekerjaannya. Jadi dengan kata lain, bukankah saya telah dua langkah lebih jauh dari apa yang sampeyan pikirkan?” tambah Pak Edo.
”Makanya, sampeyan-sampeyan ini kan para sarjana, jangan hanya memahami sebuah pernyataan itu dari teksnya saja. Sekali-sekali belajarlah bahasa konteks dari pernyataan itu sendiri, sehingga sampeyan tidak keburu berkomentar sebelum berpikir dan tidak keburu nafsu sebelum merenung dalam-dalam”, lanjut Pak Edo mengakhiri perbincangan sore itu seraya ngeluyur pergi meninggalkan rekan-rekannya yang tak berkutik, gagal menyudutkan Pak Edo, karena memang secara jujur bolehlah diakui bahwa dari sudut manapun teori kepuasan hati yang dikemukakan Pak Edo itu susah dibantah untuk tidak membenarkannya. Namun persoalannya adalah “Siapa yang mau peduli, apakah Pak Edo sudah mendapatkan kepuasan hati dengan situasi seperti itu atau tidak.
……………. Rasa-rasanya memang tidak ada.


( Cerita ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya )

1 comment: