Entah apa sebabnya, apa
karena kejenuhan kerja yang berkepanjangan , kepenatan akibat kerja yang tak
kunjung selesai atau akibat persoalan keluarga di rumah, atau bahkan mungkin
akibat kondisi lingkungan kerja yang belakangan ini dirasakan kurang sehat,
seringkali membikin sumpek pikiran beberapa teman guru di Lembaga Pendidikan
Salsabila itu.
Ini terlihat dari gaya
bicara di antara mereka yang semakin ceplas-ceplos. Entah disengaja atau tidak,
atau memang ada hal yang menyulutnya untuk berbuat begitu, sehingga orang lain
yang tidak tahu duduk persoalan mendengarnya tentu akan terkejut dan cenderung
menanggapinya dengan serius. Seperti misalnya yang terjadi pada bincang-bincang
sore di antara para guru selepas jam kerja. Tidak jelas dari mana asalnya dan
siapa yang memulai pembicaraan itu, tiba-tiba Pak Nino berkata:
“Kalau
saya realistis saja. Saya bekerja mencari gaji yang tinggi.”
“Wah,
sampeyan keliru Pak. Kalau saya justru bekerja itu mencari kepuasan hati,”
timpal Pak Edo secara tiba-tiba pula, tanpa ada ekspresi bercanda atau
main-main.
Kontan
saja pernyataan Pak Edo itu mengundang beragam reaksi dari beberapa guru lain
yang juga ada pada saat itu. Ada yang tersenyum sinis, ada lagi yang mencibir
dengan menganggap bahwa Pak Edo itu sok idealis, tak terkecuali Pak Nino yang
merasa pernyataannya telah dibantah secara mentah-mentah oleh Pak Edo. Bahkan
ada yang menganggap bahwa Pak Edo hanya asal ngomong, tak rasional,
dan lain sebagainya.
Tapi
namanya Pak Edo, tetap saja dia tak bergeming pada pendiriannya walaupun
sebenarnya ikut merasakan juga kegalauan dan nggrundelnya teman-teman
seprofesinya yang kebanyakan tak mendukung pernyataannya barusan, sekalipun ada
pula yang cuek saja, tak terpengaruh dengan ulah Pak Edo yang memang acapkali
membuat pernyataan-pernyataan kontroversial yang tidak jarang berbenturan
dengan pendapat umum di kalangan teman-temannya satu profesi itu.
“Pak
edo ini serius ngomong seperti itu?” sergap Pak Robi guru Al Islam seolah tak
tahan lama berdiam diri mendengar pernyataan Pak Edo.
“Lho, Iya dong, bagi saya
yang penting dalam bekerja ini saya mendapatkan kepuasan hati”, tegas Pak Edo.
“Ya sudah, kalau begitu
Pak Edo ini digaji sedikit saja”, secara serempak Pak Soni dan Pak Tarko tak
sabar ingin segera menyudutkan Pak Edo. “Kan tadi dia bilang nggak butuh gaji
banyak”, tambah Pak Tarko.
“Lho silahkan, tapi ingat,
sampeyan-sampeyan semua ini jangan keburu nafsu, jangan keburu salah paham.
Kalau saya digaji sedikit , mungkin hati saya puas, tapi mungkin juga tidak,
seperti halnya kebanyakan orang yang merasa tidak puas hatinya karena gajinya
yang sedikit dan tidak mencukupi. Tapi jika saya bekerja mendapat gaji yang
tinggi, itupun belum tentu akan membawa kepuasan hati saya, kalau dalam saya
bekerja itu ada komponen-komponen yang merupakan bagian dari system kerja itu tidak
membikin kita tenang, ketidak nyaman dalam bekerja, atau mungkin
tekanan-tekanan dari atasan yang tidak sebanding dengan hak-hak kita, bahkan
iklim kerja yang tidak lagi sehat dan segar, serta mengabaikan nilai-nilai
kemanusiaan dan lain sebagainya, yang kesemuanya itu sangat mungkin bisa
mngusik ketenangan dan kepuasan hati para pekerjanya, termasuk saya. Maka
jangan salahkan saya kalau dalam situasi seperti itu saya masih merasa belum meraih
apa yang saya harapkan dan mestinya menjadi dambaan setiap orang, yaitu
kepuasan hati, lebih dari sekedar gaji tinggi”, papar Pak Edo bersemangat
seolah tengah memberikan perkuliaan dengan materi pengembangan wawasan di tengah
para mahasiswanya.
“Maka dari itu kalau tadi
sampeyan-sampeyan semua ini hanya menfokuskan pada gaji tinggi saja sebagai
indikasi keberhasilan seseorang yang bekerja, maka bagi saya itu masih belum
cukup, karena menurut saya kesuksesan atau keberhasilan seseorang dalam bekerja
itu tampak dari sejauh mana dia memperoleh kenyamanan, kebahagiaan, dan
menikmati serta mencintai pekerjaannya. Jadi dengan kata lain, bukankah saya
telah dua langkah lebih jauh dari apa yang sampeyan pikirkan?” tambah Pak Edo.
”Makanya,
sampeyan-sampeyan ini kan para sarjana, jangan hanya memahami sebuah pernyataan
itu dari teksnya saja. Sekali-sekali belajarlah bahasa konteks dari pernyataan
itu sendiri, sehingga sampeyan tidak keburu berkomentar sebelum berpikir dan
tidak keburu nafsu sebelum merenung dalam-dalam”, lanjut Pak Edo mengakhiri
perbincangan sore itu seraya ngeluyur pergi meninggalkan rekan-rekannya yang tak
berkutik, gagal menyudutkan Pak Edo, karena memang secara jujur bolehlah diakui
bahwa dari sudut manapun teori kepuasan hati yang dikemukakan Pak Edo itu susah
dibantah untuk tidak membenarkannya. Namun persoalannya adalah “Siapa yang mau
peduli, apakah Pak Edo sudah mendapatkan kepuasan hati dengan situasi seperti
itu atau tidak.
……………. Rasa-rasanya memang
tidak ada.
very good
ReplyDelete