Ketika membaca judul di atas, saya
harap anda tidak terburu-buru untuk berpikir skeptis dulu sekalipun itu hak
anda sebelum anda tuntas membaca hingga akhir. Tadinya tulisan ini saya beri
judul “Kyai di atas Allah”, tapi karena saya agak khawatir terhadap pemaknaan
formalistik kata Allah, sekaligus menghindarkan dari kesalahpahaman di atas,
akhirnya saya ganti kata “Allah” dengan “Tuhan”, sekalipun sebagaimana kita
maklum bahwa yang saya maksud Tuhan ya Allah itu. Namun itupun masih belum
cukup, karena saya masih dibayangi kekhawatiran jangan-jangan anda keburu
memurtadkan saya dengan tiba-tiba mensejajarkan saya dengan musailamah al
kadzzab atau samirinya Nabi Musa hanya gara-gara membaca judul tulisan ini,
sekalipun hal itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap saya karena
yang paling berhak meurtadkan seseorang itu adalah Dia yang telah memberikan
ilhamNya untuk menorehkan tulisan ini, yaitu Yang Maha Lembut,. Allah SWT.
Akhirnya judul tulisan ini sekali lagi saya ubah hingga jadi seperti sekarang.
Yang saya maksud adalah betapa di
antara kita atau bahkan mungkin saya sendiri seringkali melecehkan Tuhan.
Secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, bukan hanya sekali
dua kali, tapi telah sekian kali kita mungkin telah memposisikan Tuhan tidak
pada keberadaanNya, walau Tuhan tentu akan cuek-cuek saja menyaksikan
hamba-hambanya yang semakin kemlinti ini sambil sesekali bilang “Awas kamu!!”
Ketika membaca judul di atas, saya
harap anda tidak terburu-buru untuk berpikir skeptis dulu sekalipun itu hak
anda sebelum anda tuntas membaca hingga akhir. Tadinya tulisan ini saya beri
judul “Kyai di atas Allah”, tapi karena saya agak khawatir terhadap pemaknaan
formalistik kata Allah, sekaligus menghindarkan dari kesalahpahaman di atas,
akhirnya saya ganti kata “Allah” dengan “Tuhan”, sekalipun sebagaimana kita
maklum bahwa yang saya maksud Tuhan ya Allah itu. Namun itupun masih belum
cukup, karena saya masih dibayangi kekhawatiran jangan-jangan anda keburu
memurtadkan saya dengan tiba-tiba mensejajarkan saya dengan musailamah al
kadzzab atau samirinya Nabi Musa hanya gara-gara membaca judul tulisan ini,
sekalipun hal itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap saya karena
yang paling berhak meurtadkan seseorang itu adalah Dia yang telah memberikan
ilhamNya untuk menorehkan tulisan ini, yaitu Yang Maha Lembut,. Allah SWT.
Akhirnya judul tulisan ini sekali lagi saya ubah hingga jadi seperti sekarang.
Yang saya maksud adalah betapa di
antara kita atau bahkan mungkin saya sendiri seringkali melecehkan Tuhan.
Secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, bukan hanya sekali
dua kali, tapi telah sekian kali kita mungkin telah memposisikan Tuhan tidak
pada keberadaanNya, walau Tuhan tentu akan cuek-cuek saja menyaksikan
hamba-hambanya yang semakin kemlinti ini sambil sesekali bilang “Awas kamu!!”
Maka jangan heran apabila ada
seseorang, anda atau mungkin saya sendiri (na’udzubillah tapi) tidak pernah
malu atau takut saat nilep uang kantor di perusahaan tempat kita bekerja
misalnya, padahal kita percaya betul bahwa Tuhan itu ada. Tapi betapa kita
sangat malu dan takut saat teman kita atau bahkan atasan kita tahu perbuatan kita
itu. Rasanya kita rela menangis meraung-raung, memelas sambil bila perlu
mencium kaki dan pantat sang atasan kita itu, asal beliau tidak keburu memecat
kita. Sementara itu tak terpikirkan oleh kita untuk menangis dan bermohon ampun
pada Gusti Allah yang mestinya harus lebih dihormati dan ditakuti agar tidak
memecat kita sebagai hambaNya.
Bahkan saat di masjid pada hari Jum’at,
ketika khotib di mimbar berwasiat “Ittaqullaaha …. Ittaqullaaha ….
Ittaqullaaha”, kita saat itu memang betul-betul diam, khusuk, tapi cobalah
tanyakan pada nurani kita, diam dan khusuk kita itu memang benar-benar karena
takut dan cinta kepada Allah, atau karena kita merasa bahwa memang kita harus
diam dan khusuk karena itu di masjid, dan malu rasanya kalau dikatakan nggak
ngerti tata cara ibadah jum’at.
Lalu saya teringat dengan pertemuan
saya dengan seorang bekas teman kuliah yang tiba-tiba saja sekarang sudah
menjadi dosen. Saya cukup terkejut dan salut padanya. Namun dia buru-buru
mengelak ketika saya mengatakan “Wah kamu beruntung sekarang bisa menjadi dosen
ya!” Dia menjawab,”Oh, tidak, ini bukan keberuntungan, ini murni upaya
saya,
saya telah bersusah payah semenjak nol”.
“Endak
maksud saya, kamu ditakdirkan bernasib baik dibandingkan teman-teman lain yang
juga telah berusaha sekeras kamu, bahkan mungkin lebih”. Tapi nampaknya teman
saya itu masih terlihat keberatan dengan ucapan saya, dengan mengatakan bahwa
dia telah melakukan perjuangan yang panjang, siang dan malam dan lain
sebagainya.
Saya tidak tahu apakah kesombongan bernada
pendiskriditan terhadap Tuhan ini merupakan adopsi dari pemikiran ilmuwan
orientalis Barat yang merasa dirinya sangat pandai, sampai-sampai saat ditanya
komentarnya tentang keberhasilan yang mereka raih, mereka menjawab:”Ini murni
usaha kami dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan”. Ataukah warisan lama dari
Qorun, seseorang di zaman Nabi Musa yang karena kesombongan dan
ketakabburannya, Allah kemudian menghempaskannya beserta harta bendanya ke
dalam perut bumi, terkuburlah Qorun hidup-hidup. Untunglah Tuhan tidak
melakukan hal yang sama terhadap orang-orang itu. Namun tak urung Tuhan mungkin
berkata “Awas kamu!”
Lain lagi dengan yang terjadi pada
saat malam takbiran di kampung saya lebaran tahun lalu. Sementara kalimat
thoyibah dikumandangkan oleh kebanyakan remaja dan anak-anak dari masjid-masjid dan surau-surau, maka yang
namanya Doel Basit asyik mengocok kartu judinya di gardu poskamling di pojok
kampung bersama teman-temannya. Tapi begitu seorang Ustadz bahkan kiyai atau
yang dikiyaikan oleh warga setempat lewat melintas poskamling, Doel Basit
langsung terkesiap sambil secara spontan terucap dari mulutnya: ”Allaahu Akbar,
Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar, Allaahu Akbar
Walillaahilhamdu”.
Kalimat yang diucapkan Doel Basyit itu
memang thoyibah, tapi rupanya Doel Basit lupa bahwa ditangannya masih
tergenggam sebuah kartu “As Kriting”. Akhirnya Pak Kyai itu tanpa berusaha
menoleh, hanya tersenyum saja seolah tak
mengetahui apa-apa.
Coba renungkan, ketika firman-firman
Tuhan tentang perintah dan larangan jarang didengar dan dilaksanakan, maka
keberadaan seorang ustadz, kyai atau yang dikiyaikan hanya sekedar lewat saja
tanpa basa-basi sanggup menghentak bahkan merubah perilaku Doel basit yang ahli
judi itu, sekalipun semu. Sungguh sebuah metode kebetulan yang amat efektif.
Pertanda apa ini?
( Cerita ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya )
No comments:
Post a Comment