Sunday, 31 March 2013

KYAI DAN KARTU AS


Ketika membaca judul di atas, saya harap anda tidak terburu-buru untuk berpikir skeptis dulu sekalipun itu hak anda sebelum anda tuntas membaca hingga akhir. Tadinya tulisan ini saya beri judul “Kyai di atas Allah”, tapi karena saya agak khawatir terhadap pemaknaan formalistik kata Allah, sekaligus menghindarkan dari kesalahpahaman di atas, akhirnya saya ganti kata “Allah” dengan “Tuhan”, sekalipun sebagaimana kita maklum bahwa yang saya maksud Tuhan ya Allah itu. Namun itupun masih belum cukup, karena saya masih dibayangi kekhawatiran jangan-jangan anda keburu memurtadkan saya dengan tiba-tiba mensejajarkan saya dengan musailamah al kadzzab atau samirinya Nabi Musa hanya gara-gara membaca judul tulisan ini, sekalipun hal itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap saya karena yang paling berhak meurtadkan seseorang itu adalah Dia yang telah memberikan ilhamNya untuk menorehkan tulisan ini, yaitu Yang Maha Lembut,. Allah SWT. Akhirnya judul tulisan ini sekali lagi saya ubah hingga jadi seperti sekarang.

Yang saya maksud adalah betapa di antara kita atau bahkan mungkin saya sendiri seringkali melecehkan Tuhan. Secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, bukan hanya sekali dua kali, tapi telah sekian kali kita mungkin telah memposisikan Tuhan tidak pada keberadaanNya, walau Tuhan tentu akan cuek-cuek saja menyaksikan hamba-hambanya yang semakin kemlinti ini sambil sesekali bilang “Awas kamu!!”

Ketika membaca judul di atas, saya harap anda tidak terburu-buru untuk berpikir skeptis dulu sekalipun itu hak anda sebelum anda tuntas membaca hingga akhir. Tadinya tulisan ini saya beri judul “Kyai di atas Allah”, tapi karena saya agak khawatir terhadap pemaknaan formalistik kata Allah, sekaligus menghindarkan dari kesalahpahaman di atas, akhirnya saya ganti kata “Allah” dengan “Tuhan”, sekalipun sebagaimana kita maklum bahwa yang saya maksud Tuhan ya Allah itu. Namun itupun masih belum cukup, karena saya masih dibayangi kekhawatiran jangan-jangan anda keburu memurtadkan saya dengan tiba-tiba mensejajarkan saya dengan musailamah al kadzzab atau samirinya Nabi Musa hanya gara-gara membaca judul tulisan ini, sekalipun hal itu sama sekali tidak berpengaruh apa-apa terhadap saya karena yang paling berhak meurtadkan seseorang itu adalah Dia yang telah memberikan ilhamNya untuk menorehkan tulisan ini, yaitu Yang Maha Lembut,. Allah SWT. Akhirnya judul tulisan ini sekali lagi saya ubah hingga jadi seperti sekarang.

Yang saya maksud adalah betapa di antara kita atau bahkan mungkin saya sendiri seringkali melecehkan Tuhan. Secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, bukan hanya sekali dua kali, tapi telah sekian kali kita mungkin telah memposisikan Tuhan tidak pada keberadaanNya, walau Tuhan tentu akan cuek-cuek saja menyaksikan hamba-hambanya yang semakin kemlinti ini sambil sesekali bilang “Awas kamu!!”

Maka jangan heran apabila ada seseorang, anda atau mungkin saya sendiri (na’udzubillah tapi) tidak pernah malu atau takut saat nilep uang kantor di perusahaan tempat kita bekerja misalnya, padahal kita percaya betul bahwa Tuhan itu ada. Tapi betapa kita sangat malu dan takut saat teman kita atau bahkan atasan kita tahu perbuatan kita itu. Rasanya kita rela menangis meraung-raung, memelas sambil bila perlu mencium kaki dan pantat sang atasan kita itu, asal beliau tidak keburu memecat kita. Sementara itu tak terpikirkan oleh kita untuk menangis dan bermohon ampun pada Gusti Allah yang mestinya harus lebih dihormati dan ditakuti agar tidak memecat kita sebagai hambaNya.

Bahkan saat di masjid pada hari Jum’at, ketika khotib di mimbar berwasiat “Ittaqullaaha …. Ittaqullaaha …. Ittaqullaaha”, kita saat itu memang betul-betul diam, khusuk, tapi cobalah tanyakan pada nurani kita, diam dan khusuk kita itu memang benar-benar karena takut dan cinta kepada Allah, atau karena kita merasa bahwa memang kita harus diam dan khusuk karena itu di masjid, dan malu rasanya kalau dikatakan nggak ngerti tata cara ibadah jum’at.

Lalu saya teringat dengan pertemuan saya dengan seorang bekas teman kuliah yang tiba-tiba saja sekarang sudah menjadi dosen. Saya cukup terkejut dan salut padanya. Namun dia buru-buru mengelak ketika saya mengatakan “Wah kamu beruntung sekarang bisa menjadi dosen ya!” Dia menjawab,”Oh, tidak, ini bukan keberuntungan, ini murni upaya
saya, saya telah bersusah payah semenjak nol”.
“Endak maksud saya, kamu ditakdirkan bernasib baik dibandingkan teman-teman lain yang juga telah berusaha sekeras kamu, bahkan mungkin lebih”. Tapi nampaknya teman saya itu masih terlihat keberatan dengan ucapan saya, dengan mengatakan bahwa dia telah melakukan perjuangan yang panjang, siang dan malam dan lain sebagainya.

Saya tidak tahu apakah kesombongan bernada pendiskriditan terhadap Tuhan ini merupakan adopsi dari pemikiran ilmuwan orientalis Barat yang merasa dirinya sangat pandai, sampai-sampai saat ditanya komentarnya tentang keberhasilan yang mereka raih, mereka menjawab:”Ini murni usaha kami dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan”. Ataukah warisan lama dari Qorun, seseorang di zaman Nabi Musa yang karena kesombongan dan ketakabburannya, Allah kemudian menghempaskannya beserta harta bendanya ke dalam perut bumi, terkuburlah Qorun hidup-hidup. Untunglah Tuhan tidak melakukan hal yang sama terhadap orang-orang itu. Namun tak urung Tuhan mungkin berkata “Awas kamu!”

Lain lagi dengan yang terjadi pada saat malam takbiran di kampung saya lebaran tahun lalu. Sementara kalimat thoyibah dikumandangkan oleh kebanyakan remaja dan anak-anak dari  masjid-masjid dan surau-surau, maka yang namanya Doel Basit asyik mengocok kartu judinya di gardu poskamling di pojok kampung bersama teman-temannya. Tapi begitu seorang Ustadz bahkan kiyai atau yang dikiyaikan oleh warga setempat lewat melintas poskamling, Doel Basit langsung terkesiap sambil secara spontan terucap dari mulutnya: ”Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillaahilhamdu”.

Kalimat yang diucapkan Doel Basyit itu memang thoyibah, tapi rupanya Doel Basit lupa bahwa ditangannya masih tergenggam sebuah kartu “As Kriting”. Akhirnya Pak Kyai itu tanpa berusaha menoleh, hanya tersenyum saja seolah  tak mengetahui apa-apa.

Coba renungkan, ketika firman-firman Tuhan tentang perintah dan larangan jarang didengar dan dilaksanakan, maka keberadaan seorang ustadz, kyai atau yang dikiyaikan hanya sekedar lewat saja tanpa basa-basi sanggup menghentak bahkan merubah perilaku Doel basit yang ahli judi itu, sekalipun semu. Sungguh sebuah metode kebetulan yang amat efektif. Pertanda apa ini?

( Cerita ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya )


No comments:

Post a Comment