Sunday, 31 March 2013

PENDIDIKAN DAN KEDEWASAAN

Antara strata pendidikan formal dan kepiawaian mensikapi persoalan keseharian hidup memang tidak selalu berbanding lurus. Artinya orang yang memiliki dasar pendidikan formal cukup, baik itu S1, S2, S3 atau Es cendol sekalipun, tidak lalu seta merta ia juga cukup bijak dan dewasa ketika berhadapan dengan persoalan hidup yang mengharuskannya untuk mengambil sikap. Tidak jarang mereka justru bersikap tidak bijak, tidak dewasa, bahkan terkesan cengeng dan tidak logis, tidak sepadan dengan predikat mereka sebagai orang yang berpendidikan. Bahkan terkesan seperti bukan orang yang berpendidikan. 

Pagi tadi Pak Koya mendapat laporan dari murid bimbelnya sebut saja fahmi," Pak, tadi Bu Sukma menangis lho saat masuk kelas 9E. "Lho iya ta, kenapa kok menangis," tanya Pak Koya penasaran. "Anak-anak ramai pak, gak mau diatur." jawabnya. "Lho, minggu lalu Bu Soraya juga menangis lho pak saat masuk kelas 9E," tambah Santi murid Pak Koya yang lain. "Halaah, Bu Zulfa juga menangis saat masuk kelas 9D," tambah murid Pak Koya yang lain lagi Salma. Pak Koya hanya tersenyum mendengarkan laporan lugu anak-anak itu. 

Pak Koya ingat seminggu yang lalu, saat itu tengah berada di ruang guru, menunggu bel masuk mengajar. Salah seorang guru sebut saja Bu Sukemi tiba-tiba berkata,"Aku nanti masuk kelas kalau gak dihiraukan lagi oleh anak-anak gimana ya?, seolah bertanya minta pendapat rekan-rekan guru yang ada pada saat itu. "Ya sudah, kalau gak dihiraukan, sekalian gak usah diajar saja," timpal Bu Fathonah spontan.

Pak Koya hanya tersenyum sembari tetap meneruskan membaca korannya, seolah tak ingin terganggu atau sekedar memberikan sedikit respon atas ucapan Bu Sukemi barusan. 

Tak ada yang tahu apa makna senyum dalam diamnya Pak Koya. Bisa saja senyum itu adalah pertanda atas ketidak mau tahuannya terhadap persoalan picisan semacam itu, atau sudah terlalu jengah terhadap orang-orang cengeng tak berkepribadian semisal Bu Sukma, Bu Soraya, Bu Zulfa, ataupun Bu Sukemi seperti tersebut di atas.

Bayangkan, Ketika seorang guru menangis saat masuk mengajar di kelas akibat merasa tidak mampu mengatur siswanya, ini sesungguhnya adalah  gambaran betapa sang guru masih belum siap untuk mengajar, atau setidaknya dia tidak memiliki ketrampilan dan pengetahuan tentang setrategi pengelolaan kelas yang baik. Apapun itu, terlepas dari kondisi siswa yang bandel misalnya, tapi sang guru adalah seorang sarjana yang sudah ditempa dengan berbagai mata kuliah yang terkait dengan ketrampilan dan kemampuan sesuai dengan profesinya. Maka mestinya ketika guru berada di dalam kelas, saat itu pula hak sepenuhnya ada dalam genggamannya untuk mewarnai siswa dan kelasnya. Siswa ada dalam kendali guru, bukan sebaliknya guru yang dikendalikan siswa, sampai harus menangis bahkan bisa jadi malah lari terbirit-birit dari kelasnya ibarat berusaha meloloskan diri dari sarang harimau.

Bagi orang yang berwawasan semisal Pak Koya, barangkali menurutnya hal semacam itu sesungguhnya adalah persoalan sepele pada satu sisi, yang tidak perlu ditanggapi. tapi di sisi lain itu adalah persoalan serius bagi pihak guru kalau dia menyadari akan kelemahannya itu. Apalagi dalam kasus di atas ada guru yang mengungkapkan sebuah pertanyaan lugu yang tidak perlu untuk dijawab,"Kalau saya nanti masuk kelas mengajar tapi tidak dihiraukan, gimana ya?" Terlepas ini sebuah pertanyaan serius atau main-main, maka sebetulnya ini adalah sebuah pernyataan yang tanpa disadari oleh sang guru tentang ketidak mampuannya mengajar di kelas. Kedua, guru ini lemah dalam hal wawasan. Guru yang lugu adalah guru yang tidak tahu atau kurang memiliki wawasan. Out put dari orang yang berwawasan luas biasanya ditandai dengan kepiawaiannya dalam berkomunikasi dan kedewasaannya dalam menyikapi persoalan hidup sehari-hari, sekecil apapun atau sebesar apapun. Sebaliknya orang yang tidak atau sedikit wawasannya, out putnya biasanya ditandai dengan kurang bisa berkomunikasi dengan baik dan  cenderung apatis dan tidak dewasa dalam menyikapi persoalan hidup sehari-hari.

Senyum Pak Koya barangkali juga bermakna keprihatinannya terhadap kondisi itu seraya terbersit harapan semoga tidak banyak para guru yang semacam itu dan sebaliknya sekolah ini hendaknya dipenuhi oleh para tenaga pendidik yang memiliki kepribadian, kualitas intelektual sekaligus komitmen sesuai dengan profesinya, karena sekolah ini adalah tempat di mana para orang tua/wali murid mengamanahkan putra-putrinya untuk dibimbing menjadi manusia-manusia yang akan hidup 10 atau 15 tahun lagi di jamannya untuk menjadi generasi yang lebih baik dari saat ini. Itu hanya bisa dilakukan oleh para tenaga pendidik yang betul-betul memiliki kualitas yang baik, wawasan yang luas, kepribadian yang matang serta kredibilitas yang tinggi. Kalau tidak, maka nampaknya kita hanya akan menambah daftar jumlah generasi yang buruk dari bangsa ini. Pernahkan anda bayangkan, betapa dosanya kita. Na'udzubillah.

Gresik, 2 April 2013

 

No comments:

Post a Comment