Sunday, 31 March 2013

SUKSESI 1


Di antara teman-teman sesama guru, barangkali hanya Pak Edo yang tampak demikian gencar menyuarakan yel-yel suksesi bagi kepemimpinan sekolah itu. Tidak tahu dari mana dan apa yang menyebabkan Pak Edo demikian yakin bahwa tahun ini adalah akhir masa jabatan pimpinan sekolah itu dan memang harus segera diakhiri, demikian menurutnya.
Sebenarnya teman-teman Pak Edo yang lain juga setuju dan mendukung semangat Pak Edo, karena memang sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka juga merasakan ketidakwajaran iklim kerja selama kepemimpinan yang sekarang. Namun kebanyakan dari mereka, karena faktor pribadi masing-masing atau yang lain, maka mereka hanya bersifat menunggu dengan sabar atau menyabarkan diri, sampai apabila suksesi itu benar-benar terjadi, mereka akan bisa bernafas lega sambil berkata,”Anda memang benar Pak Edo, kami juga sebenarnya mendukung anda dari belakang.
Namun bagi orang seyakin dan seteguh Pak Edo peduli apa. Mendapat dukungan atau tidak , toh Pak Edo tidak mau ambil pusing, tetap saja melaju menyuarakan kebenaran yang diyakininya, yaitu suksesi, harus ada suksesi, kalau tidak , akan menjadi semakin porak poranda institusi ini oleh system dan kebijakan yang salah arah, demikian barangkali yang ada dalam benak Pak Edo.
Waktu terus berlalu. Hari-hari masa jabatan sang pimpinan sekolah itu semakin di ambang mata. Namun seiring dengan itu pula dering issu suksesi mulai redup. Sudah tidak lagi terdengar suara Pak Edo yang dulu lantang dan getol menabuh genderang suksesi, kini tampak ayem dan dingin-dingin saja. Tidak jelas apakah orang sudah mulai jenuh karena suara-suaranya tak pernah digubris atau apa, tapi yang jelas Pak Edo terlihat tenang-tenang saja.
Tentu saja perubahan drastis sikap Pak edo ini tak urung membikin gemas dan penasaran rekan-rekannya tadi yang sebenarnya tak kalah berat merindukan adanya perubahan kepemimpinan yang berarti. Maka segera timbul berbagai spekulasi tanggapan di kalangan teman-teman sejawat. Ada yang mengatakan, Pak Edo sudah berubah, Pak Edo sekarang sudah dapat posisi enak makanya tidak lagi vokal, Pak edo tidak konsekwen, dan lain sebagainya.
Sekalipun mungkin Pak Edo tak begitu terpengaruh dengan anggapan semacam itu, tapi sebenarnya hal tersebut sungguh-sungguh tidak menguntungkan keberadaan Pak Edo secara pribadi, sekaligus ini menunjukkan betapa telah terjadi krisis mental dan kesadaran rohani di kalangan guru yang menganggap adanya korelasi antara kedudukan, jabatan, kedekatan dengan atasan, dengan vokal tidaknya seseorang, kritis tidaknya seseorang, meskipun Pak Edo tidak termasuk ada di dalam daftar korelasi di atas.
Sungguh amat memprihatinkan apabila kemudian ada anggapan nakal bahwa semakin empuk posisi jabatan seseorang, semakin dia tidak banyak membikin ulah, demikian sebaliknya sebagaimana yang lazim terjadi di luar sana, baik di lembaga pemerintahan atau yang lain.
Rupanya mereka lupa bahwa mereka berada di sebuah institusi pendidikan yang mestinya harus lebih mengedepankan nilai-nilai, moralitas, dan kepekaan pikiran dan hati di dalam melihat setiap persoalan.
Tentu saja gelagat tak sehat itu segera tercium oleh Pak Edo. Namun lagi-lagi Pak Edo memandang itu tak lebih sebagai bagian dari efek atau dampak saja dari sebuah kesalahan besar tadi. Walau begitu Pak Edo tidak boleh tinggal diam demi menyaksikan kegundahan yang dirasakan teman-teman terhadap sikap Pak Edo yang menurut mereka telah berubah , tidak konsekwen, dan lain-lain.
“Begini lho Saudara-saudara”, demikian Pak Edo membuka pembicaraan hari itu.
“Semangat dan pemikiran saya tentang suksesi terhadap pimpinan sekolah ini masih tetap seperti yang dulu”, sambung Pak Edo.
“Tapi, Pak Edo nyatanya sekarang lain, beda dengan dulu!, sergap Pak Tarko.
“Apanya yang lain, apanya yang beda?, desak Pak Edo.
“Dulu pak Edo begitu bersemangat mengumandangkan adanya suksesi, tapi sekarang, Pak Edo sama sekali cuek, seakan cuci tangan dari persoalan ini”, timpal Pak Heru, guru kesenian itu ikut nimbrung dalam pembicaraan kali ini.
“Begini, kalau dulu saya begitu antusias menyuarakan adanya sebuah suksesi bagi pimpinan sekolah ini, itu tak lebih adalah saya ingin menyuarakan sebuah alternatif perubahan dari situasi yang tidak enak, situasi yang tidak sehat yang sama-sama telah kita rasakan. Lalu kita kemudian membiasakan untuk berani berpendapat, tidak hanya sekedar nggrundel dalam hati, tanpa berbuat apa-apa. Sementara saat itu masa akhir jabatan pimpinan masih cukup lama sehingga paling tidak suara-suara kita yang ada di bawah ini merupakan sebuah andil arus bawah sebagai bahan pertimbangan bagi bapak-bapak yang ada di yayasan dalam mengambil keputusan berikutnya. Sementara bagi pimpinan sekolah sendiri secara pribadi, hal ini harus dianggap sebagai sebuah fenomena untuk introspeksi terhadap kemungkinan kekeliruan dan kesalahan yang lalu untuk kemudian memperbaikinya sehingga tidak terjadi lagi kesalahan yang berlarut-larut. Lalu mengapa sekarang saya cenderung diam, jawabnya adalah karena masa akhir jabatan itu sudah sedemikian dekat di ambang mata. Ibaratnya sekarang ini adalah minggu-minggu atau hari-hari tenang.
“Sekarang adalah saatnya bagi bapak-bapak yang ada di yayasan selaku pengambil keputusan untuk menentukan apakah akan mengganti ataukah memperpanjang masa jabatan sang pimpinan sekolah. Sedang bagi pimpinan sekolah sendiri, hari-hari tenang ini hendaklah dijadikan sebagai saat-saat yang sarat dengan tafakkur, evaluasi diri serta bermunajat kepada Gusti Allah, sehingga kalau nanti ia terpaksa harus diganti, maka dia mengakhiri jabatannya dengan khusnul khotimah (akhir yang baik). Namun kalau masa jabatannya diperpanjang, maka mudah-mudahan dia belajar dari kekeliruan masa lalu”, papar Pak Edo begitu gamblang sekaligus mengakhiri perbincangan kali itu.

Tulisan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.

No comments:

Post a Comment