Suatu hari dua orang kawan saya terlibat dalam sebuah
pembicaraan yang santai tapi serius. Santai, karena dilakukan di saat-saat
luang kerja mereka. Serius, karena materi atau isi pembicaraan mengungkapkan
kekhawatiran atas maraknya tindak kriminalitas yang kian meningkat baik dalam
hal kuantititas maupun kualitas operandinya.
Saya menganggap dua orang
kawan itu masih memiliki kepedulian sosial yang cukup, paling tidak jika
dibandingkan dengan kawan-kawan yang lain, yang karena persoalan-persoalan
keluarga, istri hamil tua, saudaranya akan menikah, gajian sudah habis sebelum
waktunya, lalu tutup mata tutup telinga, tak peduli lagi terhadap adanya
kesenjangan sosial yang terjadi, terhadap nasib saudara-saudaranya yang kurang
beruntung di luar sana; bah koen ngene, bah koen ngono, bah presiden kecemplung
sumur, sing penting lak awakku dhewe ta, ngurus awak dhewe wae sumpek hare …….
Dan seterusnya.
Tapi dua kawan saya tadi
nampaknya masih memiliki apa yang disebut “human sense”. Ini nampak dari dialog
mereka.
“Wah orang sekarang
nekat-nekat ya Mas!”
“Nekat bagaimana, Dik?”
“Bayangkan mas, orang
sekarang kalau mau berbuat jahat, tidak cukup
hanya sekedar mencuri atau menipu saja, itu sudah ketinggalan jaman dan terlalu
lama. Maka mereka sering ambil jalan pintas, tidak jarang menyakiti korbannya,
bahkan bila perlu membunuh. Lha itu, di ujung pertigaan jalan kemarin, seorang
perampok tanpa basa-basi langsung membabat tangan pengendara sepeda motor
hingga putus dan membawa kabur sepeda motornya. Ditambah lagi, orang sekarang
mudah sekali tersinggung, dan lagi-lagi timbul pertengkaran, lalu
ujung-ujungnya seringkali menimbulkan korban nyawa melayang. Koq sepertinya
nyawa ini tidak ada harganya saja. Kenapa ya mas. Apa ini pengaruh krisis ya?”
“Kamu benar, Dik. Kadang
aku juga berpikir begitu. Sudah ekonomi negara ini porak poranda, ditambah lagi
rasa tidak aman sering manghantui sebagian besar menghantui masyarakat.”
“Lha iya, bapak-bapak yang
di atas itu lho, kok lama sekali menyembuhkan keadaan yang sulit ini, malah
sepertinya keadaan semakin parah saja, padahal mereka kan pinter-pinter. Tapi
.. iya ya .. apalah artinya mereka
pinter ya mas, toh kebanyakan dari
mereka tak punya kemauan. Sepertinya mereka pada ngotot untuk meloloskan
kepentingan pribadi dan partainya masing-masing. Belum lagi katanya sebagian di
antara mereka masih orang-orang lama, malah katanya ada wakil rakyat yang
dulunya adalah preman. Halaah … mboh .. aku yang nggak ikut-ikutan koq ya
merasa bingung … Nggak rakyatnya … nggak pejabatnya .. semuanya tampang-tampang
kriminal … mangkel aku!!”
“Heh .. boleh saja kamu kesal, Dik. Tapi
ingat, saat ini, lebih-lebih dalam keadaan seperti sekarang ini, siapapun dia
orangnya, berpotensi kriminal!”
“Hah?! .. wah .. wah .. ya
jangan bilang begitu dong mas. Kalau sampeyan bilang “siapapun dia” berarti
sampeyan menyama ratakan semua orang, antem kromo namanya itu. Semua berpotensi
kriminal, termasuk saya berarti?”
“Iya!”
“Termasuk sampeyan
sendiri?”
“Iyya!”
“Apa juga termasuk Kaji
Toha, Mbah Sholeh, atau Mas Hasan yang alim dan kalem orangnya itu?”
“Iyya, siapapun!! ..
termasuk keluarga kita sendiri ataupun orang lain!”
“Eddiann ..!!”
Sampai di situ, saya
tinggalkan dua orang kawan yang masih asyik dalam pembicaraan yang seru itu,
karena keburu ada hal lain yang harus segera saya selesaikan hari itu. Namun
sesampainya di rumah, saya masih tak bisa melupakan percakapan dua orang kawan
siang tadi.
Saya lalu teringat dengan
bunyi sebuah hadits Nabi yang menyatakan; “Setiap manusia terlahir dalam
keadaan suci … dan seterusnya. Bahkan Tuhan berfirman dalam bentuk dialog
dengan ruh-ruh sebelum penciptaan manusia; “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (mereka
para ruh menjawab); “Benar, kami menyaksikan.”
Sampai di sini saya
memahami bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki naluri (fitrah) baik, dari
siapapun dia dilahirkan. Lalu saya berpikir tentang di mana letak potensi manusia yang lain.
Baru ketika saya ingat bahwa Tuhan memberikan alternatif pilihan kepada manusia
dengan mengatakan “Faman syaa a falyu’min Waman syaa a falyakfur” (Maka barang
siapa yang mau beriman ya silahkan, tapi barang siapa yang mau kufur ya
silahkan saja), semua terserah kita. Laa ikrooha fiddiini (tak ada paksaan
dalam memeluk agama / menerima kebenaran), tapi tentu semuanya ada
konsekwensinya, yang diterjemahkan dalam bentuk pahala dan siksa. Akhirnya saya
menemukan kebenaran dalam pembicaraan dua orang kawan tadi.
Cerita ringan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.
No comments:
Post a Comment