Sunday, 31 March 2013

SIAPAPUN ENGKAU BERPOTENSI KRIMINAL


Suatu hari dua orang kawan saya terlibat dalam sebuah pembicaraan yang santai tapi serius. Santai, karena dilakukan di saat-saat luang kerja mereka. Serius, karena materi atau isi pembicaraan mengungkapkan kekhawatiran atas maraknya tindak kriminalitas yang kian meningkat baik dalam hal kuantititas maupun kualitas operandinya.
Saya menganggap dua orang kawan itu masih memiliki kepedulian sosial yang cukup, paling tidak jika dibandingkan dengan kawan-kawan yang lain, yang karena persoalan-persoalan keluarga, istri hamil tua, saudaranya akan menikah, gajian sudah habis sebelum waktunya, lalu tutup mata tutup telinga, tak peduli lagi terhadap adanya kesenjangan sosial yang terjadi, terhadap nasib saudara-saudaranya yang kurang beruntung di luar sana; bah koen ngene, bah koen ngono, bah presiden kecemplung sumur, sing penting lak awakku dhewe ta, ngurus awak dhewe wae sumpek hare ……. Dan seterusnya.
Tapi dua kawan saya tadi nampaknya masih memiliki apa yang disebut “human sense”. Ini nampak dari dialog mereka.
“Wah orang sekarang nekat-nekat ya Mas!”
“Nekat bagaimana, Dik?”
“Bayangkan mas, orang sekarang kalau mau berbuat jahat, tidak cukup hanya sekedar mencuri atau menipu saja, itu sudah ketinggalan jaman dan terlalu lama. Maka mereka sering ambil jalan pintas, tidak jarang menyakiti korbannya, bahkan bila perlu membunuh. Lha itu, di ujung pertigaan jalan kemarin, seorang perampok tanpa basa-basi langsung membabat tangan pengendara sepeda motor hingga putus dan membawa kabur sepeda motornya. Ditambah lagi, orang sekarang mudah sekali tersinggung, dan lagi-lagi timbul pertengkaran, lalu ujung-ujungnya seringkali menimbulkan korban nyawa melayang. Koq sepertinya nyawa ini tidak ada harganya saja. Kenapa ya mas. Apa ini pengaruh krisis ya?”
“Kamu benar, Dik. Kadang aku juga berpikir begitu. Sudah ekonomi negara ini porak poranda, ditambah lagi rasa tidak aman sering manghantui sebagian besar menghantui masyarakat.”
“Lha iya, bapak-bapak yang di atas itu lho, kok lama sekali menyembuhkan keadaan yang sulit ini, malah sepertinya keadaan semakin parah saja, padahal mereka kan pinter-pinter. Tapi .. iya  ya .. apalah artinya mereka pinter ya mas, toh  kebanyakan dari mereka tak punya kemauan. Sepertinya mereka pada ngotot untuk meloloskan kepentingan pribadi dan partainya masing-masing. Belum lagi katanya sebagian di antara mereka masih orang-orang lama, malah katanya ada wakil rakyat yang dulunya adalah preman. Halaah … mboh .. aku yang nggak ikut-ikutan koq ya merasa bingung … Nggak rakyatnya … nggak pejabatnya .. semuanya tampang-tampang kriminal … mangkel aku!!”

  “Heh .. boleh saja kamu kesal, Dik. Tapi ingat, saat ini, lebih-lebih dalam keadaan seperti sekarang ini, siapapun dia orangnya, berpotensi kriminal!”
“Hah?! .. wah .. wah .. ya jangan bilang begitu dong mas. Kalau sampeyan bilang “siapapun dia” berarti sampeyan menyama ratakan semua orang, antem kromo namanya itu. Semua berpotensi kriminal, termasuk saya berarti?”
“Iya!”
“Termasuk sampeyan sendiri?”
“Iyya!”
“Apa juga termasuk Kaji Toha, Mbah Sholeh, atau Mas Hasan yang alim dan kalem orangnya itu?”
“Iyya, siapapun!! .. termasuk keluarga kita sendiri ataupun orang lain!”
“Eddiann ..!!”

Sampai di situ, saya tinggalkan dua orang kawan yang masih asyik dalam pembicaraan yang seru itu, karena keburu ada hal lain yang harus segera saya selesaikan hari itu. Namun sesampainya di rumah, saya masih tak bisa melupakan percakapan dua orang kawan siang tadi.
Saya lalu teringat dengan bunyi sebuah hadits Nabi yang menyatakan; “Setiap manusia terlahir dalam keadaan suci … dan seterusnya. Bahkan Tuhan berfirman dalam bentuk dialog dengan ruh-ruh sebelum penciptaan manusia; “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (mereka para ruh menjawab); “Benar, kami menyaksikan.”
Sampai di sini saya memahami bahwa pada dasarnya semua manusia memiliki naluri (fitrah) baik, dari siapapun dia dilahirkan. Lalu saya berpikir tentang di mana letak potensi manusia yang lain. Baru ketika saya ingat bahwa Tuhan memberikan alternatif pilihan kepada manusia dengan mengatakan “Faman syaa a falyu’min Waman syaa a falyakfur” (Maka barang siapa yang mau beriman ya silahkan, tapi barang siapa yang mau kufur ya silahkan saja), semua terserah kita. Laa ikrooha fiddiini (tak ada paksaan dalam memeluk agama / menerima kebenaran), tapi tentu semuanya ada konsekwensinya, yang diterjemahkan dalam bentuk pahala dan siksa. Akhirnya saya menemukan kebenaran dalam pembicaraan dua orang kawan  tadi.


Cerita ringan ini ditulis tahun 2005 saat penulis masih aktif bertugas di SD Alhikmah Full Day School Surabaya.

No comments:

Post a Comment