SYUKUR
ALA
MAT
DRA’I
Sore itu
Aku sungguh mendapatkan
sebuah pelajaran berharga
Aku bukannya selesai
mendengarkan pidatonya yang terhormat
bapak professor doctor fulan
situmeru dalam sebuah seminar seru
Atau ceramahnya bapak K.H.
Semar yang pandai bermain kata-kata itu
Apalagi khotbahnya ustadz
gareng yang meledak-ledak tapi tak pernah menentramkan kalbu
Bukan . . . sama sekali bukan
itu
Tapi justru saya terkesima
dengan kalimat sederhana penuh makna
Yang terlontar begitu saja
tanpa rekayasa
Dari bibir yang melepuh
akibat kerasnya kehidupan
Namun tetap tulusnya terasa
Adalah Mat Dra’I seorang
tetangga
Yang boleh jadi saat itu
telah menghentakkan kesadaran saya
Pada sebuah pertaubatan
nasuha
Ia adalah seorang pekerja
kasar pada sebuah toko gudang beras dan gula
Yang tugasnya adalah
mengangkut setengah kwintalan beras dan gula
dari dalam mobil truk ke
gudang
atau sebaliknya
Semakin banyak karungan beras
atau gula itu terangkut oleh Mat Dra’I,
semakin banyak pula upah
yang bakal diterima
meskipun upah Mat Dra’I
sepanjang pagi hingga sore
hari
tak lebih antara empat puluh
hingga tujuh puluh tima ribu rupiah
Dan yang paling nampak adalah
semakin banyak beban beras
atau gula yang diangkutnya,
maka semakin Mat Dra’I
jalannya terbongkok-bongkok mirip orang tua,
dan kulitnyapun semakin kasar
dan hitam laksana jelaga
karena matahari tak pernah
mengenal kompromi dengan terik sinarnya
Tapi . . .
Mat Dra’I menjalani
kehidupannya dengan luar biasa rajinnya
Tak urung loyalitas Mat
Dra’I
menarik perhatian engkong Aho
lelaki paruh baya keturunan cina
pemilik toko gudang yang
cukup kaya
untuk memberinya kepercayaan
sebagai sopir truk miliknya
yang mengantarkan beras dan
gula
ke berbagai tempat dalam
dan luar kota
Sementara itu dalam hal
hubungannya dengan Sang Pencipta,
tak lagi perlu diragukan
untuk ditanya
Mat Dra’I senantiasa aktif
melaksanakan sholat berjamaah dalam setiap waktunya,
bahkan di sela-sela usai
bekerja, Mat Dra’I rajin mengkaji Alqur’an di surau dekat rumah
Aku memang sering
bercengkerama dengan Mat Dra’I seusai sholat berjamaah.
Kami selalu mengadakan
obrolan ringan dalam berbagai masalah
Sekalipun Mat Dra’I hanya
tamatan ibtidaiyah
namun dia cukup cerdas untuk
diajak bicara
dan nampak sekali dia
mengikuti perkembangan situasi terkini
melalui Koran yang dia
bacanya seusai membaca Qur’an,
sekalipun dia kesulitan
ketika disuruh menuliskan aksara
Malam itu giliranku membuka
obrolan dengan Mat Dra’I selepas sholat isya’.
“ Wah . . Mat, Sampeyan
lumayan enak sekarang ya, dipercaya nyopir sendiri”.
“Yah . . Alhamdulillah Dik,
orang bodoh seperti saya ini, walaupun tak bisa menulis, tapi masih dipercaya
bisa bekerja seperti sekarang” (melalui bahasa Jawa yang kental dengan dialek
Maduranya)
Aku terkejut bukan alang
kepalang
Hatiku robek, jantungku
seakan berhenti berdetak
Mulutku menganga, pikiranku
melayang
Terkesima aku tak siap
mendengar ucapan polos penuh hikmah itu
Kalau saja ucapan itu keluar
dari bibir Mas Warno, atau Bik Lina,
atau Wak kaji Toha yang
selalu bergelimang dalam kenyamanan
dan jarang dililit kesulitan
hidup itu, tentu aku tak setakjub ini.
Tapi ini Mat Dra’I
Lelaki yang mestinya belum
terlalu tua
Yang hidupnya sarat dengan duka
Menurut praduga kita
Tapi tidak bagi Mat Dra’I
Yang selalu merasa bahagia
Dengan rasa syukurnya
Memang,
Orang-orang kecil seperti Mat
Dra’I
Yang walaupun begitu, besar
di hadapan Tuhan
Yang selalu terlewati dari
simpati orang
Hanya karena kekurangan dan
kelemahan
Ketika berbicara tentang
kesyukuran
Orang segera mudah heran
Karena biasanya orang yang
kekurangan itu
Enaknya mengeluh dan selalau
mengatakan kekurangan.
Sementara
itu
Orang yang kaya dan kecukupan
Yang dalam kehidupan nyata
Tidak jarang masih banyak
keluhan
Dan merasa kekurangan
Menurut kita mereka mestinya
lebih pantas
Mengungkapkan kesyukuran.
Itulah naïf nya orang-orang
seperti kita
Yang masih saja menempatkan
Ungkapan pantas dan tidak
pantas pada setiap persoalan secara berat sebelah
Padahal dalam hal kesyukuran
Selalu saja pantas adanya
Baik bagi si kaya yang serba
kecukupan
Maupun si miskin yang serba
kekurangan
Bahkan wajib kata agama
Hanya saja,
Ketika kesyukuran itu
terungkap
Dari bibir si miskin yang
sarat dengan
Kebersahajaan dan kekurangan
Seperti mat Dra’I misalnya
Maka mantap dan yakinnya
terasa
Dan tak perlu lagi disangsian
Karena sudah dibuktikan
Namun ketika si kaya yang
serba kecukupan
Berbicara tentang kesyukuran
Kadang terdengar hambar dan
biasa
Karena memang perlu ada
pembuktian
Seandainya kemudahan dan
kecukupan
Tak lagi bersamanya
Dan berganti dengan kesulitan
dan kekurangan
Akankah kesyukuran itu
Masih ada letaknya di depan
Menahkodai kehidupannya?
Gresik, 4 April 2017 -
Luki
No comments:
Post a Comment