KYAI DAN KARTU AS
Yang saya maksud adalah
betapa di antara kita atau bahkan mungkin saya sendiri seringkali melecehkan
Tuhan. Secara sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, bukan hanya
sekali dua kali, tapi telah sekian kali kita mungkin telah memposisikan Tuhan
tidak pada keberadaanNya, walau Tuhan tentu akan cuek-cuek saja menyaksikan
hamba-hambanya yang semakin kemlinti ini sambil sesekali bilang “Awas kamu!!”
Maka jangan heran apabila
ada seseorang, anda atau mungkin saya sendiri (na’udzubillah tapi) tidak pernah
malu atau takut saat nilep uang kantor di perusahaan tempat bekerja
misalnya, padahal kita percaya betul bahwa Tuhan itu ada. Tapi betapa kita
sangat malu dan takut saat teman atau bahkan sang atasan tahu perbuatan itu. Rasanya kita rela menangis meraung-raung, memelas sambil bila perlu
mencium kaki dan pantat sang atasan itu, asal beliau tidak keburu memecat
kita. Sementara itu tak pernah terpikirkan untuk menangis dan bermohon ampun
pada Gusti Allah yang mestinya harus lebih dihormati dan ditakuti agar tidak
memecat kita sebagai hambaNya.
Bahkan saat di masjid pada
hari Jum’at, ketika khotib di mimbar berwasiat “Ittaqullaaha …. Ittaqullaaha ….
Ittaqullaaha”, kita saat itu memang betul-betul diam, khusuk, tapi cobalah
tanyakan pada nurani kita, diam dan khusuk kita itu memang benar-benar karena
takut dan cinta kepada Allah, atau karena merasa bahwa memang kita harus
diam dan khusuk karena itu di masjid, dan malu rasanya kalau dikatakan nggak
ngerti tata cara ibadah jum’at.
Lalu saya teringat dengan
pertemuan saya dengan seorang bekas teman kuliah yang tiba-tiba saja sekarang
sudah menjadi dosen. Saya cukup terkejut dan salut padanya. Namun dia buru-buru
mengelak ketika saya mengatakan “Wah kamu beruntung sekarang bisa menjadi dosen
ya!” Dia menjawab,”Oh, tidak, ini bukan keberuntungan, ini murni upaya
saya, saya telah bersusah payah
semenjak nol”.
“Endak maksud saya, kamu ditakdirkan
bernasib baik dibandingkan teman-teman lain yang juga telah berusaha sekeras
kamu, bahkan mungkin lebih”. Tapi nampaknya teman saya itu masih terlihat
keberatan dengan ucapan saya, dengan mengatakan bahwa dia telah melakukan
perjuangan yang panjang, siang dan malam dan lain sebagainya.
Saya tidak tahu apakah
kesombongan bernada pendiskriditan terhadap Tuhan ini merupakan adopsi dari
pemikiran ilmuwan orientalis Barat yang merasa dirinya sangat pandai,
sampai-sampai saat ditanya komentarnya tentang keberhasilan yang mereka raih,
mereka menjawab:”Ini murni usaha kami dan tidak ada hubungannya dengan Tuhan”.
Ataukah warisan lama dari Qorun, seseorang di zaman Nabi Musa yang karena
kesombongan dan ketakabburannya, Allah kemudian menghempaskannya beserta harta
bendanya ke dalam perut bumi, terkuburlah Qorun hidup-hidup. Untunglah Tuhan
tidak melakukan hal yang sama terhadap orang-orang itu. Namun tak urung Tuhan
mungkin berkata “Awas kamu!!”
Lain lagi dengan yang
terjadi pada saat malam takbiran di kampung saya lebaran tahun lalu. Sementara
kalimat thoyibah dikumandangkan oleh kebanyakan remaja dan anak-anak dari masjid-masjid dan surau-surau, maka yang
namanya Doel Basit asyik mengocok kartu judinya di gardu poskamling di pojok
kampung bersama teman-temannya. Tapi begitu seorang Ustadz bahkan kiyai atau
yang dikiyaikan oleh warga setempat lewat melintas poskamling, Doel Basit
langsung terkesiap sambil secara spontan terucap dari mulutnya: ”Allaahu Akbar,
Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar, Allaahu Akbar
Walillaahilhamdu”.
Kalimat yang diucapkan Doel
Basyit itu memang thoyibah, tapi rupanya Doel Basit lupa bahwa ditangannya
masih tergenggam sebuah kartu “As Kriting”. Akhirnya Pak Kyai itu tanpa
berusaha menoleh, hanya tersenyum saja seolah
tak mengetahui apa-apa.
Coba renungkan, ketika
firman-firman Tuhan tentang perintah dan larangan jarang didengar dan
dilaksanakan, maka keberadaan seorang ustadz, kyai atau yang dikiyaikan hanya
sekedar lewat saja tanpa basa-basi sanggup menghentak bahkan merubah perilaku
Doel basit yang ahli judi itu, sekalipun semu. Sungguh sebuah metode kebetulan
yang amat efektif. Pertanda apa ini?
( 15 April 2017 – Luki)
No comments:
Post a Comment