Keprihatinan Pak Koya atas kondisi sekolah itu teramat tinggi, terutama melihat gelagat siswa-siswinya yang semakin menunjukkan perilaku menyimpang dari semestinya usia dan pendidikan mereka. Bayangkan, anak-anak sekarang seusia SD dan SMP sudah tidak asing dengan yang namanya pacaran. Mereka tidak malu-malu mengungkapkannya kepada teman atau bahkan gurunya sendiri kalau dia sudah menembak atau ditembak temannya (istilah gaul dalam kehidupan para remaja saat ini). Yang sangat mencemaskan adalah perilaku, pergaulan dan cara berpikir mereka tidak lagi seperti usia mereka yang masih remaja atau bahkan masih anak-anak.Tidak sedikit dari mereka yang sudah mengenal istilah ciuman, hubungan seks, dan lain-lain. Namun yang amat mencengangkan dari itu semua bahwa, pengetahuan yang tidak diikuti oleh kematangan berpikir karena usia mereka yang masih amat dini itu telah menjerumuskan mereka ke dalam pergaulan yang tidak wajar dan tidak normal. Sehingga nilai-nilai etika dan moral sudah mulai perlahan tapi pasti menghilang dari kehidupan mereka, baik saat di sekolah, apalagi di luar sekolah.
Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa konsumsi anak-anak era modern itu setelah pulang sekolah biasanya mampir ke warnet walaupun tidak semuanya, dengan alasan mengerjakan tugas sekalipun tentu lebih banyak bukan karena mengerjakan tugasnya. nah dari situlah celah di mana anak mendapatkan dan mengakses segala pengetahuan dan pengaruh negatif, baik itu situs jejaring sosial yang sangat melenakan para anak dan remaja sehingga mereka merelakan waktu terbuang sia-sia berjam-jam, atau situs-situs porno yang lain, yang tentu saja amat menyesatkan bagi mereka sendiri, dan ini tentu sangat tidak diharapkan oleh para guru maupun orang tua seandainya mereka mengetahui.
Anak-anakku, demikian Pak Koya membuka nasihatnya pagi itu. "Janganlah kalian kehilangan tahapan kehidupan dari usia kalian. Manusia itu, semuanya akan mengalami fase-fase atau tahapan kehidupan di dunia ini sesuai dengan usianya. Ada fase atau masa bayi dan balita, ada fase atau masa anak-anak, fase/masa remaja, masa pemuda/pemudi, masa dewasa, masa jadi orang tua, masa kakek-nenek. Semua itu hendaknya dijalani dan diisi dengan benar. Jangan sampai kalian melompat memasuki ke fase yang belum semestinya kalian memasukinya. Anak-anak atau bahkan orang-orang yang melanggar tatanan fase kehidupan ini biasanya mereka mengacuhkan nilai-nilai etika, moral, bahkan sudah pasti agama. Anak-anak yang sudah terlanjur memasuki fase kehidupan lain yang bukan dunianya itu, sesungguhnya ia tanpa sadar telah menyia-nyiakan salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepadanya.
Anak-anakku, demikian Pak Koya membuka nasihatnya pagi itu. "Janganlah kalian kehilangan tahapan kehidupan dari usia kalian. Manusia itu, semuanya akan mengalami fase-fase atau tahapan kehidupan di dunia ini sesuai dengan usianya. Ada fase atau masa bayi dan balita, ada fase atau masa anak-anak, fase/masa remaja, masa pemuda/pemudi, masa dewasa, masa jadi orang tua, masa kakek-nenek. Semua itu hendaknya dijalani dan diisi dengan benar. Jangan sampai kalian melompat memasuki ke fase yang belum semestinya kalian memasukinya. Anak-anak atau bahkan orang-orang yang melanggar tatanan fase kehidupan ini biasanya mereka mengacuhkan nilai-nilai etika, moral, bahkan sudah pasti agama. Anak-anak yang sudah terlanjur memasuki fase kehidupan lain yang bukan dunianya itu, sesungguhnya ia tanpa sadar telah menyia-nyiakan salah satu karunia Tuhan yang diberikan kepadanya.
nah seperti kata kyai saya pak
ReplyDeleteanak jaman dulu itu sehabis magrib ngak ada yang berani keluar rumah karena takut genderuwo tapi kebalikanya saat ini ba`da magrib banyak muda mudi bergoncengan dengan lawan jenis nya silih berganti karena sekarang anak muda banyak yang tahu saat ba`da magrib genderuwo yang ganteng 2 cantik2 pada keluar hehehehe
menurut saya indonesia ini kurang pendidikan moralitas yang dikejar hanya pendidikan formal sedangkan sumber dayaa manusia yang dimiliki kurang siap mohon balasanya pak
he, sesama gendruwo dilarang saling ngrasani lho ya, he he he
ReplyDeleteya ya moga kita semua gak ada yang jadi temannya gendruwo, apalagi mirip dengannya
kalau saya ya bukan genderuwo
ReplyDelete