Saturday, 17 October 2015

MENYURUH ATAU MINTA TOLONG?



MENYURUH ATAU MINTA TOLONG?

Dua kata (frase) di atas terlihat berbeda, dan memang jelas berbeda. Secara substantif pun kedua kata tersebut harus dimaknai berbeda. Satu-satunya persamaannya adalah bahwa keduanya melibatkan orang lain untuk melakukan sesuatu buat diri si penyuruh atau peminta tolong. Adapun perbedaannya adalah; kata “MENYURUH” berarti butuh bantuan orang lain untuk melakukan sesuatu buat dirinya (si penyuruh), sementara si penyuruh sebetulnya mampu dan memiliki pengetahuan seandainy dia melakukannya sendiri. Cuma karena keterbatasan waktu atau kesempatan atau sekedar untuk meringankan tugas si penyuruh, maka dia butuh bantuan orang lain untuk melakukan hal yang diperintahkan.

Sementara, kata “MINTA TOLONG”, dua kata (frase) yang secara filosofis saja bisa ditafsirkn sebagai bentuk situasi ketergantungan atau ketidak mampuan. Oleh karena itu kata “MINTA TOLONG” berarti butuh bantuan orang lain untuk melakukan sesuatu buat diri si peminta, dan si peminta tolong ini memang tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan  untuk melakukannya sendiri. Oleh karena itu si peminta tolong ini situasinya adalah sangat bergantung pada kerja dan bantuan orang lain, walaupu sebenarnya si peminta tolong itu punya banyak waktu dan kesempatan untuk melakukannya, tapi dia memang berada pada posisi lemah yang tidak mampu dan tidak tahu bagaimana cara melakukannya.

Seorang ibu yang menugaskan anak tertuanya untuk menjaga adiknya yang tidur, sementara sang ibu pergi ke pasar, seorang guru yang menugaskan  muridnya untuk melakukan peragaan dialog bahasa indonesia  di depan kelas, seorang dokter yang menyuruh asistennya untuk melakukan pemeriksaan awal terhadap pasiennya, atau seorang direktur yang memerintahkan sekretarisnya untuk mangagendakan setiap pertemuan yang akan dilakukannya, dll, adalah contoh-contoh tindakan menyuruh.

Baik seorang ibu yang menugaskan anak tertuanya, atau seorang guru yang menugaskan muridnya, atau seorang dokter yang menyuruh asistennya, bahkan seorang direktur yang memerintahkan sekretarisnya, sesungguhnya mereka semua adalah orang-orang yang mengerti dan mampu untuk melakukan tugas-tugas itu secara mandiri, namun kerena faktor keterbatasan waktu dan kesempatan, atau tuntutan pembagian job diskripsi, dll, yang mengharuskan mereka mengalihkan beban itu ke orang lain.

Sementara, seorang anak kecil yang meminta ibunya mengambilkan botol susu di atas meja, seorang pasien yang meminta perawatnya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, seorang tuna netra yang meminta pejalan kaki lain untuk menyeberangkannya, atau seorang musafir tersesat yang meminta petunjuk arah jalan kepada penduduk setempat, dll, adalah contoh-contoh tindakan minta tolong.

Baik seorang anak kecil yang meminta ibunya mengambilkan botol susu, seorang pasien yang meminta perawatnya menyuapkan makanan, seorang tuna netra yang meminta pejalan kaki lain menyeberangkannya, bahkan seorang musafir tersesat yang meminta petunjuk arah jalan, sesungguhnya mereka semua adalah orang-orang yang penuh dengan keterbatasan baik secara fisik ataupun kemampuan dan pengetahuan untuk bisa melakukan segala pekerjaan tersebut secara mandiri, walaupun mereka punya kesempatan dan waktu untuk melakukannya, namun karena ketidak berdayaannya, maka mereka harus menggantungkan harapan itu kepada orang lain. Tanpa bantuan orang lain itu, mereka tidak akan, atau setidaknya kurang mendapatkan apa-apa atau bahkan gagal dari tujuannya.

Sekarang kita sudah mengerti, atau anggaplah kita sudah sepakat bahwa ada perbedaan yang sangat signifikan dan substantif antara menyuruh dan minta tolong. Maka mari tengok fenomena yang terjadi di lingkungan keseharian kita, utamanya sebagai refleksi untuk diri kita yang senantiasa berinteraksi di masyarakat, baik di keluarga, lingkungan perumahan, bahkan di kantor tempat kita bekerja.

Betapa sering kita mendengar, atau melihat, atau bahkan jangan-jangan kita sendiri pernah melakukannya; Seorang menejer misalnya,  memerintahkan rekan kerjanya untuk membuatkan rancangan anggaran kunjungan kerja ke luar kota, sementara itu mestinya adalah bagian dari job diskripsi dia sebagai seorang menejer, tapi karena sang menejer tidak mampu, disebabkan keawamannya terhadap bagaimana mengawali dan menyusun anggaran yang benar dan valid, maka mau tidak mau dia harus menyerahkannya kepada yang lebih kompeten, dan itu sah-sah saja.

Atau contoh kasus lain; seorang guru yang memiliki tanggung jawab, salah satu diantaranya mampu menyusun perangkat persiapan pengajaran dan sekaligus melaksanakannya. Celakanya, entah karena alasan apa, sang guru ternyata tak mengerti bagaimana memulai dan cara menyusun perangkat persiapan pengajaran yang tepat dan benar, maka ia meminta bantuan kepada rekan sesama guru yang lebih mengerti untuk membuatkannya.

Contoh kasus lain, seseorang yang terlanjur sudah diangkat sebagai pimpinan di sebuah perusahaaan, ternyata dia harus menyerahkan sebagian tugas dan beban tanggung jawabnya kepada bawahannya, bukan karena sang pimpinan tak memiliki waktu dan kesempatan, tapi karena sang pimpinan merasa bingung atas ketidak mengertiannya, sehingga harus menyerahkannya kepada bawahannya yang lebih mengerti, sekalipun itu bukan merupakan bagian dari tugas sang bawahan.

Masih banyak contoh kasus lain yang serupa dengan tiga contoh kasus di atas, bahkan terlalu banyak mungkin orang-orang  yang terlalu mengandalkan orang lain untuk menyelesaikan tugas dan tanggung jawabnya, disebabkan bukan karena tidak adanya kesempatan, tapi lebih karena ketidak mampuan dan keterbatasan pengetahuan dan ketrampilan (unskill worker), dan di Indonesia terlalu banyak model-model unskill worker semacam ini. Maka kita tidak perlu heran jika ada orang orang dengan jabatan tinggi dan sederet titel di belakang namanya menambah keharuman dan kemulyaan sang pemilik nama, tapi bekerjanya tidak maksimal, membuat konsep tidak bisa, membuat program tak mampu, bahkan (mohon maaf) terlalu gaptek, dan mengoperasikan computer saja tidak bisa, tapi semua pekerjaannya selalu rampung ketika dimintai pertanggung jawaban secara formal, karena semuanya sudah dikerjakan oleh orang lain, entah itu asisten pribadi, pembantu,  atau yang lain. Ini memang sangat lazim terjadi, terlebih di negara berkembang seperti Indonesia yang masih sangat mengedepankan azas formalitas, bukannya kredibilitas dan profesionalisme.

Saya sudah lama mendengar dari teman-teman yang pernah berkunjung ke luar negeri, mereka baru bisa melihat, mendengar, dan merasakan bahwa katanya; orang-orang luar negri itu (utamanya di Negara maju) sangat mengedepankan etos kerja, bukan sekedar formalitas. Makanya, (masih kata teman tadi) kalau di luar negri itu, satu orang pekerja sudah terbiasa melakukan sendiri beberapa pekerjaan dalam waktu yang sama, dan hasilnya pun sangat optimal. Sementara di Indonesia tidak sedikit para pekerja yang secara berjamaah bekerja hanya untuk menyelesaikan satu pekerjaan, dan itu pun kadang tidak jelas kapan bakal selesai, dan jika selesai pun seringkali tidak optimal hasilnya.  Betapa tidak efisiennya cara kerja pekerja bangsa kita, begitu kata teman saya dengan nada bercanda.

Persoalan terjadi ketika seseorang yang menggantungkan pekerjaannya itu kepada orang lain (dalam arti kata minta tolong, bukannya menyuruh) karena persoalan unskill worker tadi, tiba-tiba mengatakan dengan bangganya; O pekerjaan saya sudah selesai, kan saya sudah menyuruh anak buah saya menyelesaikannya.

Coba perhatikan; dia mengatakan ;  saya sudah menyuruh (bukan minta tolong), padahal dia sendiri tidak mengerti bagaimana caranya ketika dia harus melakukan sendiri pekerjaan itu. Kedua, padahal pekerjaan itu masih merupakan tugasnya dan masih dalam job diskripsinya. Ketiga, ini yang lebih parah, kalau sekiranya karena semua tugas-tugas yang diembankan kepadanya itulah, maka ia digaji oleh institusi atau perusahaan di mana dia bekerja, sementara beberapa atau bahkan banyak dari tugasnya itu bukan dari upaya penyelesaiannya sendiri, tapi dibebankan kepada orang lain karena persoalan unskill worker tadi, sementara orang lain itu tidak mendapatkan kompensasi honor darinya, bahkan gaji bulanan semuanya masuk ke kantung si peminta tolong sendiri, maka hal yang seperti  ini jelas tidak bisa dibenarkan dilihat dari sudut pandang apapun. Hal ini berarti sudah dalam kategori makan gaji buta, bahkan bisa jadi termasuk dholim dalam bahasa agama.

Sikap yang  bijak demi melihat fenomena di atas adalah; mari kita mulai menyadari kekeliruan kita selama ini, sudah berapa kali kita meminta tolong kepada orang lain tanpa menyadari bahwa kita saat itu memang sedang minta tolong kepada orang lain, bukan memberikan perintah. Seharusnya pula kita sudah mulai memahami kapan harus menyuruh dan kapan saat harus meminta tolong, tentunya di waktu dan situasi yang tepat. Menyadari akan kekurangan dan keterbatasan diri kita sungguh adalah sikat berjiwa besar yang layak diacungi jempol sebagai tanda kita memiliki jiwa ksatria. Dan yang terakhir adalah sudah waktunya kita berusaha meng up grade diri terhadap kemampuan yang kita miliki, sehingga tidak selamanya kita selalu menggantungkan kepada orang lain secari membabi buta tanpa berani memberikan kompensasi apapun kepada orang lain itu atas segala tugas dan beban yang mestinya merupakan tanggung jawab kita. Kalau meng upgrade diri pun tidak mampu, maka langkah bijaknya adalah  melakukan resign (mengundurkan diri) dari institusi/perusahaan di mana kita bekerja, sebagai tindakan ksatria dan tanggung jawab moral diri kita agar institusi/perusahaan itu tidak terbebani oleh kehadiran kita yang tidak proporsional, dan kitapun tidak terlalu lama menjadi bahan tertawaan para rekan kerja di sana tanpa kita menyadarinya karena kita sibuk mengedepankan ego dan kejumawaan yang tak pernah ada habisnya.
Gresik, 17 Oktober 2015

1 comment:

  1. Tulisan yang sangat bagus, barusan berdebat sama manusia bebal yang ngeyel meminta dan menyuruh itu adalah hal yang sama karena tujuan nya sama, padahal dari kata dasar saja sudah beda, Minta; Suruh.

    saya menjelaskan bahwa penempatan posisi kita lah yang membedakan, perintah itu mutlak dari sosok yang lebih tinggi ke bawah, sedangkan permintaan itu untuk posisi setara dan pada yang di "atas" kita

    ReplyDelete