Saturday, 31 October 2015

REKONSISTENSI



REKONSISTENSI

Kita sering dalam hidup ini mengabaikan beberapa hal sederhana tapi sebenarnya sangat mendasar dalam nilai-nilai kehidupan,  terlebih agama. Misalnya saat kita belum menikah, ingin sekali segera menikah. Tapi ketika baru beberapa tahun atau beberapa bulan menikah, konsistensi kita tiba-tiba berubah dan sangat layak dipertanyakan, entah akibat kita yang mulai tidak  setia dengan pasangan, atau bahkan mengkhianati pernikahan itu. 

Begitu pula saat kita belum bekerja, ingin sekali kita segera mendapatkan pekerjaan yang kita idam-idamkan itu. Bahkan seakan-akan kita rela mengorbankan apa saja demi mencapai keinginan kita meraih pekerjaan  itu (padahal mestinya tidak seharusnya begitu). Tapi lihatlah, begitu kita sudah mendapatkan pekerjaan itu, hari demi hari kita lalui, bulan demi bulan kita lewati, banyak diantara kita mulai merasakan mengalami penurunan-penurunan; mulai penurunan gairah kerja, semangat dan etos kerja menurun, kepedulian terhadap pekerjaan tidak semembara awal dulu lagi, kedisiplinan mulai kendor, tanggung jawab terhadap profesionalisme kerja,lambat tapi pasti, mulai pudar, dan lain-lain. Pada saat-saat sepertu itulah kita telah mengalami inkonsistensi terhadap komitmen kita di awal dulu.

Jalan terbaik untuk memperbaiki diri saat kita berada pada situasi seperti itu adalah sebaiknya kita merekonsistensi diri. Bagi seorang pekerja (apapun profesinya) Sebaiknya ia bercermin kembali mengingatkan dirinya di masa-masa lalu. Betapa ia kala itu berada pada posisi yang butuh segera bekerja, karena ia sedang menganggur,sementara kebutuhan hidup dan berbagai macam keinginan seakan hendak terpenuhi semuanya padahal ia tak punya penghasilan apa-apa. Maka jadilah ia sebagai orang yang begitu antusias memburu setiap lowongan pekerjaan, melakukan lobi-lobi ke sana ke mari. Saat tes wawancara pun, berbagai janji loyal, penuh disiplin dan tanggung jawab, serta kata-kata dan ungkapan positif penuh kobaran semangat 45 ia sampaikan baik lewat surat lamaran, atau langsung kepada pewawancaranya, semuanya seolah menyatakan kesanggupannya untuk bisa bekerja dengan baik di institusi atau perusahaan itu dalam kondisi apapun dan situasi bagaimanapun, asalkan ia bisa diterima bekerja saat itu. Bahkan untuk memuluskan jalan agar bisa diterima, tak jarang cara-cara tak sehat pun bila perlu dilakukan.

Makanya, senyampang kita mau untuk bercermin kembali menyadari liku-liku dan proses kehidupan yang sudah kita lalui tidak lah begitu mudah, penuh perjuangan hingga akhirnya berhasil kita raih sebagai bagian dari karunia Tuhan yang harus kita syukuri sekecil dan sebesar apapun, maka haruskah kesyukuran itu kita pangkas bahkan kita tebang hanya disebabkan oleh riak-riak kehidupan di dalam pekerjaan kita. Haruskah karunia nikmat Tuhan telah yang sekian lama kita perjuangkan itu, kita ingkari dengan keluhan-keluhan kita sepanjang hari-hari kerja kita oleh ketidak puasan diri atas besaran gaji yang tidak cukup misalnya, ataukah karena peluang untuk menduduki jabatatan tertentu di institusi itu gagal karena diserobot orang lain padahal ia merasa lebih senior, atau ketidak puasan terhadap kebijakan menejemen perusahaan yang dianggap tidak adil, dan lain sebagainya. Haruskah rona-rona permasalahan kerja semisal itu semua akan mengurangi atau bahkan menghapus kesenangan dan kebahagiaan yang telah kita dapatkan sejak awal dulu. Di manakah itu kebahagiaan yang pernah kita alami saat pertama kali mendengar kabar lolos diterima kerja, di mana pula itu keceriaan yang pernah kita rasakan saat menikmati gaji pertama yang kita terima, di mana pula itu kebahagiaan yang pernah kita dapatkan saat sang bos menyalami kita atas penghargaan yang kita raih sebagai tenaga kerja muda berprestasi tahun itu, yang karenanya kita berhak atas berbagai bonus dari perusahaan. Demikianlah masa-masa itu seolah-olah kita berada di atas angin, sementara ada di sana orang-orang yang berkebalikan sekali keadaannya dengan kita, sangat kekurangan, sangat tidak beruntung, sangat termarjinalkan dan bahkan sangat menyedihkan.  

Dan memang demikianlah kehidupan ibarat dua sisi keping uang, kadang di atas, kadang di bawah, kadang bahagia, kadang sedih. Maka pada saat seperti itu bukan situasinya yang penting, tapi yang terpenting adalah bagaimana sikap menghadapi situasi yang kita alami. Apakah secara bijak ataukah secara emosional kita mensikapinya adalah menjadi faktor penentu hasil dari permasalahan yang kita hadapi.

Jika kita mensikapinya secara emosional, maka jadilah kita sosok yang gampang marah, tidak pernah merasa puas, merasa diri sebagai orang yang paling dirugikan, sementara orang lain serba beruntung, dan masih banyak perasaan-perasaan negatif lainnya. Namun sebaliknya, jika kita mau sedikit mengendurkan ego kita, bercermin dan melakukan flashback serta merenung terhadap makna dan perjalanan kehidupan kita selama ini, memikirkan tentang besaran kesenangan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang telah kita enyam dibanding kesusahan, kegelisahan, bahkan kerugian yang telah kita alami, maka tidak menutup kemungkinan hal itu merupakan bagian dari upaya rekonsistensi kita untuk bisa bertindak lebih bijak, dan pada akhirnya kita menjadi pribadi yang siap menerima setiap keadaan yang ada, serta mudah memaklumi setiap kebijakan yang dikeluarkan perusahaan tempat kita bekerja, tanpa mengurangi kekritisan kita, namun selebihnya kita terima dengan prasangka baik dan perasaan syukur. Bukankah memang itu hakikat ajaran tertinggi bagi kita umat manusia? Tak bisa dipungkiri memang, faktor spiritualitas dan pengaruh lingkungan, baik keluarga, masyarakat tempat tinggal, apalagi lingkungan kerja adalah turut berperan memberikan support yang tidak sedikit terhadap pembentukan sikap bijak dan kedewasaan.

31 Oktober 2015
Luki Hakim

No comments:

Post a Comment