REKONSISTENSI
Kita sering dalam hidup ini mengabaikan beberapa hal sederhana tapi
sebenarnya sangat mendasar dalam
nilai-nilai kehidupan, terlebih agama.
Misalnya saat kita belum menikah, ingin sekali segera menikah. Tapi ketika baru
beberapa tahun atau beberapa bulan menikah, konsistensi kita tiba-tiba berubah
dan sangat layak dipertanyakan, entah akibat kita yang mulai tidak setia dengan pasangan, atau bahkan
mengkhianati pernikahan itu.
Begitu pula saat kita belum bekerja, ingin sekali
kita segera mendapatkan pekerjaan yang kita idam-idamkan itu. Bahkan
seakan-akan kita rela mengorbankan apa saja demi mencapai keinginan kita meraih
pekerjaan itu (padahal mestinya tidak
seharusnya begitu). Tapi lihatlah, begitu kita sudah mendapatkan pekerjaan itu,
hari demi hari kita lalui, bulan demi bulan kita lewati, banyak diantara kita
mulai merasakan mengalami penurunan-penurunan; mulai penurunan gairah kerja,
semangat dan etos kerja menurun, kepedulian terhadap pekerjaan tidak semembara
awal dulu lagi, kedisiplinan mulai kendor, tanggung jawab terhadap
profesionalisme kerja,lambat tapi pasti, mulai pudar, dan lain-lain. Pada
saat-saat sepertu itulah kita telah mengalami inkonsistensi terhadap komitmen
kita di awal dulu.
Jalan terbaik untuk memperbaiki diri saat kita berada pada situasi
seperti itu adalah sebaiknya kita merekonsistensi diri. Bagi seorang pekerja
(apapun profesinya) Sebaiknya ia bercermin kembali mengingatkan dirinya di
masa-masa lalu. Betapa ia kala itu berada pada posisi yang butuh segera
bekerja, karena ia sedang menganggur,sementara kebutuhan hidup dan berbagai
macam keinginan seakan hendak terpenuhi semuanya padahal ia tak punya
penghasilan apa-apa. Maka jadilah ia sebagai orang yang begitu antusias memburu
setiap lowongan pekerjaan, melakukan lobi-lobi ke sana ke mari. Saat tes
wawancara pun, berbagai janji loyal, penuh disiplin dan tanggung jawab, serta
kata-kata dan ungkapan positif penuh kobaran semangat 45 ia sampaikan baik
lewat surat lamaran, atau langsung kepada pewawancaranya, semuanya seolah
menyatakan kesanggupannya untuk bisa bekerja dengan baik di institusi atau
perusahaan itu dalam kondisi apapun dan situasi bagaimanapun, asalkan ia bisa
diterima bekerja saat itu. Bahkan untuk memuluskan jalan agar bisa diterima,
tak jarang cara-cara tak sehat pun bila perlu dilakukan.
Makanya, senyampang kita mau untuk bercermin kembali menyadari liku-liku dan
proses kehidupan yang sudah kita lalui tidak lah begitu mudah, penuh perjuangan
hingga akhirnya berhasil kita raih sebagai bagian dari karunia Tuhan yang harus
kita syukuri sekecil dan sebesar apapun, maka haruskah kesyukuran itu kita
pangkas bahkan kita tebang hanya disebabkan oleh riak-riak kehidupan di dalam
pekerjaan kita. Haruskah karunia nikmat Tuhan telah yang sekian lama kita
perjuangkan itu, kita ingkari dengan keluhan-keluhan kita sepanjang hari-hari
kerja kita oleh ketidak puasan diri atas besaran gaji yang tidak cukup
misalnya, ataukah karena peluang untuk menduduki jabatatan tertentu di
institusi itu gagal karena diserobot orang lain padahal ia merasa lebih senior,
atau ketidak puasan terhadap kebijakan menejemen perusahaan yang dianggap tidak
adil, dan lain sebagainya. Haruskah rona-rona permasalahan kerja semisal itu
semua akan mengurangi atau bahkan menghapus kesenangan dan kebahagiaan yang
telah kita dapatkan sejak awal dulu. Di manakah itu kebahagiaan yang pernah
kita alami saat pertama kali mendengar kabar lolos diterima kerja, di mana pula
itu keceriaan yang pernah kita rasakan saat menikmati gaji pertama yang kita
terima, di mana pula itu kebahagiaan yang pernah kita dapatkan saat sang bos
menyalami kita atas penghargaan yang kita raih sebagai tenaga kerja muda
berprestasi tahun itu, yang karenanya kita berhak atas berbagai bonus dari
perusahaan. Demikianlah masa-masa itu seolah-olah kita berada di atas angin,
sementara ada di sana orang-orang yang berkebalikan sekali keadaannya dengan
kita, sangat kekurangan, sangat tidak beruntung, sangat termarjinalkan dan
bahkan sangat menyedihkan.
Dan memang demikianlah kehidupan ibarat dua
sisi keping uang, kadang di atas, kadang di bawah, kadang bahagia, kadang sedih.
Maka pada saat seperti itu bukan situasinya yang penting, tapi yang terpenting adalah bagaimana sikap menghadapi situasi yang kita
alami. Apakah secara bijak ataukah secara emosional kita mensikapinya adalah menjadi faktor penentu hasil dari
permasalahan yang kita hadapi.
Jika kita mensikapinya secara emosional, maka jadilah kita sosok
yang gampang marah, tidak pernah merasa puas, merasa diri sebagai orang yang
paling dirugikan, sementara orang lain serba beruntung, dan masih banyak perasaan-perasaan
negatif lainnya. Namun sebaliknya, jika kita mau sedikit mengendurkan ego kita,
bercermin dan melakukan flashback serta merenung terhadap makna dan perjalanan
kehidupan kita selama ini, memikirkan tentang besaran kesenangan, kenikmatan, dan
kebahagiaan yang telah kita enyam dibanding kesusahan, kegelisahan, bahkan
kerugian yang telah kita alami, maka tidak menutup kemungkinan hal itu
merupakan bagian dari upaya rekonsistensi kita untuk bisa bertindak lebih bijak,
dan pada akhirnya kita menjadi pribadi yang siap menerima setiap keadaan yang
ada, serta mudah memaklumi setiap kebijakan yang dikeluarkan perusahaan tempat
kita bekerja, tanpa mengurangi kekritisan kita, namun selebihnya kita terima
dengan prasangka baik dan perasaan syukur. Bukankah memang itu hakikat ajaran
tertinggi bagi kita umat manusia? Tak bisa dipungkiri memang, faktor
spiritualitas dan pengaruh lingkungan, baik keluarga, masyarakat tempat
tinggal, apalagi lingkungan kerja adalah turut berperan memberikan support yang
tidak sedikit terhadap pembentukan sikap bijak dan kedewasaan.
31 Oktober 2015
Luki Hakim
No comments:
Post a Comment